1.10.2017

HIkayat Si Sumbu Pendek :)


Suatu hari di negeri antah berantah di mana group med sos sedang sangat menjamur, hiduplah si sumbu pendek. si sumbu pendek ini tergabung dalam cukup banyak group medos aplikasiapa. 
Meski bukan socialita sejati, tapinya cukup banyak group yang menautkan si sumbu pendek. mulai dari keluarga, teman sekolah dari sd sampai kuliah, temen kerja, ibu ibu komplek, ibu ibu sekolahan, hobi sama, rumpian, jalan jalan, makan enak, cuci mata (grup ga jelas amet yah :p) dst etc ..buanyak bahkan kebuanyakan :D

Seperti namanya si sumbu pendek ini, mudah sekali tersulut dengan posting posting atau komen komen yang terlontar di group.
jika di kelompokan berikut adalah hal hal yang bisa memicu meledaknya petasan si sumbu pendek (yang seringnhya ga perlu banget mledak juga, maklum namanya juga sumbu pendek) :

1. Berita hoax yang jelas banget hoax nya
untuk berita hoax ini, alhamdulillah untuk yang ini si sumbu pendek sudah bisa mengatasi dengan cara ignore atau delete chat.

2. Postingan reliji berbau hoax juga, pake dalil dalil maksa, atau bahkan hadits palsu, plus jadi pesan berantai dengan quote: "sebarkanlan!" ini akan sangat menimbulkan quote: kuma aing we siah !! tuh kan kesulut :D

3. Postingan sotoy, kenapa bilang sotoy kerna, kebanyakan posting suka lupa kerjain. ya sih kebaikan yang di posting, tapi kerjaian aje dulu, aseli nya kebanyakan omdo, posting sih cuman 1 single klik button, tapi kalo kerjainnya ya laen cerita. ini juga bisa di atasi dengan 1 single klik button, clear *ketawasetan*

4. debat kusir, debat ga jelas, debat yang masing masing nu pang aing na, nah kalo ini si sumbu pendek biasanya ngacirr jauh jauh, secara emang ga jago debat, kurang wawasan juga, daaaan inget ayat, hindarilah debat ;)

5. komen sotoy. misal ada yang posting, trus di challenge bener ga postingannya jangan jangan hoax, eh yg laen yang nyaut dengan nada merendahkan yang challenge, trus di jadiin bahan guyonan, bullying terjadi, ketawa buat hal yang ga lucu, ujung ujungnnya melakukan kesia sia an, biasanya yg begini ngebahas lagi di grup lain, yg gada si anu nya, *ikon cape deh...psstt ada ayat nya juga pan, tinggalkan lah hal yang tak bermanfaat.

6. postingan aseli nanya, trus dicuekin, wahduh si sumbu pendek emang sebel banget di cuekin, beberapa orang sih udah bisa di biasain aja, kalo nyuekin yo wes, mungkin sibuk, mungkin emang ga tau, mungkin ga pegang hape, mungkin  mungkin dan banyak mungkin lain yang bikin sumbu ga pendek pendek amet. tapi kalo yang jelas jelas buka front itu loh yang suka bikin ngamuk. buka front tuh maksud nya gini, udah jelas jelas posting nanya, yang di tanya posting di grup yang sama, etapinya ga jawab pertanyaan, cuke beibeh weee jiga nu te kenal, woii pedahal satu group loookhkhkhk meledaklah si sumbu pendek. keluar lah itu kata kata mutiara :D:D:D

si sumbu pendek sadar ini gada gunanya. kebanyakan sih udah bisa handle tanpa harus bawa ke hati. tapi masih banyak juga yang ditanggepin. kerna ada hal hal yang menurut si sumbu pendek ini harus di lurusin and kalo emang perlu ngomong yah ngomong aja, tegas asal sopan dan santun tapi tujuan tersampaikan dan mereka harus tau ketidaksukaan nya. 
menurut si sumbu pendek penting orang tau ketidaksukaannya, agar dia ga bikin lagi, meski tjuan itu, too good to be true.... ujung ujungnya sih jaga jarak ajah lah, biar ga mledak, dah tau sumbu nya pendek berani beraninya nguprek nguprek hal yang sebetulnya ga penting penting amat buat di bahas apalagi bikin diri meledak, ujungnya ngok feeling, hadeuh ngapain juga tadi kepancing *yagitudeh *yagitusih dan intinya si sumbu penek ga terlalu peduli mo dikata tukang merepet or suka cari masalah, sepanjang yg disampaikan benar, kenapa engga, ga dikit dikit naggapin juga sih, yang perlu perlu dan di rasa perlu aja.

Si sumbu pendek masih terus usaha manjangin sumbu, minimal kalo sumbunya ga panjang, ga maen di area yang bikin meledak, istigfar istigfar. dan satu keyakinan bahwa sumbu pendek itu rugi, gada untung untungnya, rubah orang itu mustahil, rubah diri sendiri pake ilmu kudunya bisa. Ga kaya ultramen juga sih suddenly sudden, remote itu dipegang sama tangan, jgn jadi remote mudah dikendaliin tapi jadi orang yg pegang remote.. fyuh maen maen di era serba posting dg 1 jari tangan emang kudu harus pinter pinter, the art of knowing is knowing what to ignore -Rumi- yaaah bismillah terus belajar..

heeeniwe buswe ini fiktif lokh, kesamaan cerita dan tokoh memang di sengaja kerna based o true event....upstststs :p:p

1.03.2017

Danau-danau Penanda Jejak Tektovulkanik

Sumber: 
http://nasional.kompas.com/read/2012/04/23/09035935/Danau-danau.Penanda.Jejak.Tektovulkanik

Oleh Agung Setyahadi/Prasetya Eko P/Ingki Rinaldi/Ahmad Arif

KOMPAS.com - Bukit-bukit memagari hamparan biru air Danau Ranau. Gunung Seminung yang puncaknya tertutup sebaris awan berdiri megah di seberang.

Dari kaki gunung yang menjulur ke danau, air panas mengucur tanpa henti. Perahu kecil membelah jernih air, lalu berlabuh di tepian. Eduard (45) lalu menawarkan membawa ke sumber air panas itu.

Eduard, warga Banding Agung, Kota Batu, Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan, sama sekali tak mengira, danau indah itu adalah satu dari deretan danau di Pulau Sumatera yang terbentuk dari letusan dahsyat di masa lalu. Bahkan, ketika beberapa ikan di danau mati dan air danau menguarkan bau belerang menyengat. ”Dulu pernah ada ikan mati mendadak,” ungkap Eduard, pemilik perahu wisata.

Fenomena matinya ikan di Danau Ranau telah beberapa kali terjadi dalam 50 tahun terakhir. Kejadian itu di antaranya tahun 1962, 1993, 1995, dan 1998. Terakhir, fenomena ini juga terjadi pada 4 April 2011.

Dari penelitian Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (2011), kematian ikan itu tidak menyeluruh terjadi di area danau, tetapi hanya di sekitar keluarnya mata air panas, yakni di mata air panas Kota Batu, Ujung, dan mata air panas Way Wahid. Pada saat kejadian, air danau di lokasi matinya ikan biasanya berwarna putih susu dan berbau gas belerang. Dari hasil penelitian itu, pada sekitar kejadian ada gempa kecil di garis sesar yang melintang di sepanjang danau.

Air panas di kaki Seminung dan kematian ikan yang kerap terjadi merupakan pertanda jejak vulkanik yang masih tersisa di Danau Ranau.

Danau vulkanik
Sumatera saat ini lebih banyak menyedot perhatian karena aktivitas tektoniknya berupa gempa dan tsunami besar yang kerap terjadi. Di masa lalu aktivitas vulkanik di pulau ini ternyata sangat dahsyat. Jejak kedahsyatan vulkanik di Sumatera terlihat dalam bentuk danau-danau kaldera raksasa, salah satunya Danau Ranau seluas 127 kilometer persegi itu.

Letusan dahsyat Ranau terjadi sekitar 55.000 tahun yang lalu dan menyemburkan 150 kilometer kubik rempah vulkanik. Endapan aliran awan panas dan material jatuhan setebal ratusan meter menyelimuti area seluas 140 kilometer persegi.

Alessandro Tibaldi dari Departemen Ilmu Geologi dan Geoteknologi, Universitas Milan-Bicocca, Italia, dalam Volcanism in Reverse and Strike-Slip Fault Settings (2010) menjelaskan, evolusi Danau Ranau bermula dari terbentuknya cekungan akibat sesar pisah tarik (pull-apart fault). Dalam cekungan berukuran 12 km x 16,5 km ini, gunung api dan panas bumi bermunculan. Proses ini diikuti perkembangan kaldera- kaldera kecil. Peningkatan aktivitas vulkanik ini kemudian memperluas kaldera hingga ke bentuk seperti sekarang.

Sekitar 5.000 tahun sebelum letusan Ranau atau 60.000 tahun lalu, Maninjau Purba di Sumatera Barat juga meletus dahsyat. Letusan ini menyemburkan 220-250 kilometer kubik rempah vulkanik yang tersebar hingga radius 75 kilometer dari pusat letusan.

Gunung api Maninjau yang berkembang di zona Sesar Besar Sumatera itu diperkirakan tiga kali meletus besar. Masing- masing letusan membentuk kaldera yang saling menyambung hingga membentuk Danau Maninjau seperti saat ini.

Jejak letusan dahsyat Maninjau tersingkap jelas di Ngarai Sianok di dekat kawasan wisata Bukittinggi, Sumatera Barat. Lembah besar itu diapit tebing terjal berona cerah hasil aliran awan panas dan endapan material jatuhan letusan Maninjau Purba. Ketebalan material letusan yang terpotong Batang Sianok itu mencapai 220 meter.

Endapan material letusan Maninjau itu diteliti HD Tjia Geolog dari Universitas Kebangsaan Malaysia dan Ros Fatihah, peneliti geologi dari Universitas Malaya yang dituangkan dalam penelitian Blasts from the Past Impacting on Peninsular Malaysia (2008). Tjia yang pernah mengajar di Institut Teknologi Bandung (ITB) ini menemukan tiga teras sungai yang menunjukkan terjadinya tiga periode letusan itu. Teras pertama berada sekitar 16 meter dari dasar sungai. Teras kedua menjulang hingga 200 meter dan tidak ada pelapisan.

”Tuff (material endapan letusan) yang sangat tebal itu menunjukkan pernah terjadi letusan sangat besar yang semburan tepra (fragmen batu apung) tersebar sangat luas, seperti yang terjadi di Toba,” tulis Tjia.

Di Sumatera Utara, kita juga menemukan Danau Toba yang merupakan produk letusan gunung api raksasa (supervolcano) sekitar 74.000 tahun lalu. Letusan ini merupakan letusan gunung api terkuat yang pernah terjadi di dunia dalam dua juta tahun terakhir.

Craig A Chesner, geolog dari Universitas Eastern Illinois menyebutkan, letusan ini telah menciptakan badai vulkanik sehingga menyebabkan dunia diliputi kegelapan total selama sekurangnya enam tahun.

Fotosintesis tak terjadi. Kelaparan mendera. Antropolog Stanley H Ambrose dari University of Illinois (1998) menyebutkan, nenek moyang manusia modern (homo sapiens) nyaris punah akibat letusan ini. Periode ini, menurut Ambrose, dikenal sebagai bottle neck atau kemacetan populasi

Danau tektonik
Selain danau vulkanik, Sumatera juga memiliki danau-danau yang murni terbentuk dari aktivitas tektonik, salah satunya Danau Singkarak di Sumatera Barat. Proses pembentukan Danau Singkarak menjadi obyek penelitian ilmu kebumian yang sangat menarik. Sejumlah peneliti telah menawarkan beberapa teori evolusi Singkarak.

Van Bemmelen dalam karya besarnya Geology of Indonesia (1949) menilai cekungan-cekungan di sepanjang Sumatera sebagian besar terbentuk akibat proses vulkano-tektonik. Berdasarkan teori itu, Singkarak merupakan sisa gunung api raksasa yang meletus dahsyat dan kemudian membentuk danau seiring dengan pertumbuhan sesar yang memotongnya. Teori vulkano-tektonik juga disampaikan Bemmelen untuk menjelaskan terbentuknya lima danau di cekungan Suoh, Lampung.

Namun, teori Bemmelen mengenai pembentukan Singkarak dan Suoh diluruskan oleh sejumlah geolog yang melakukan penyelidikan lebih dalam. Geolog senior dari Institut Teknologi Bandung, MT Zen, menelusuri jejak pembentukan Singkarak pada Februari-Maret 1970. Hasil penelitian profesor yang gemar mendaki gunung itu dituangkan dalam jurnal berjudul ”Origin of Singkarak Lake in the Padang Hinghlands”.

Zen tidak menemukan jejak endapan material letusan gunung api tua di lembah-lembah di sekitar danau. Bukit-bukit yang mengelilingi danau juga tidak mencirikan dinding sisa runtuhan tubuh gunung api akibat letusan kaldera. Dinding kaldera sangat khas karena tegak, seperti di Danau Maninjau.

Singkarak, menurut Zen, terbentuk murni akibat proses tektonik dari sesar-sesar yang ada di sekitarnya. Danau ini merupakan bagian dari cekungan memanjang Singkarak-Solok yang merupakan salah satu segmen Sesar Besar Sumatera. Cekungan besar yang memanjang itu kemudian terbendung material letusan gunung api muda Merapi, Singgalang, dan Tandike di sisi barat laut. Di sisi tenggara terbendung oleh endapan material letusan Gunung Talang.

”Lembah panjang Singkarak- Solok merupakan graben (amblesan). Ini bagian dari sesar Sumatera. Danau Singkarak sendiri terbentuk akibat pembendungan di kedua ujung lembah oleh material letusan gunung api. Lembah panjang itu terbentuk sebelum proses vulkanik begitu aktif memuntahkan materialnya,” tulis Zen.

Kerry Sieh dan Danny Hilman lebih rinci membahas tentang evolusi Danau Singkarak. Dalam hipotesis mereka yang dituangkan dalam Neotectonics of The Sumatran Fault (2000), Danau Singkarak bertambah lebar seiring pergeseran dua sesar yang mengapit danau. Singkarak diapit dua sesar pisah tarik yang merupakan bagian dari segmen Sianok dan segmen Sumani yang terpisah sejauh 7,5 kilometer.

Setiap kali terjadi gempa, terjadi pergeseran sesar yang bervariasi mengikuti kekuatan gempa. Total pergeseran Singkarak diperkirakan 23 kilometer hingga terbentuk danau seperti yang ada sekarang ini. Evolusi luas Danau Singkarak itu berawal dari pergeseran 3 km, kemudian berkembang menjadi 8 km, 13 km, dan sekarang ini 23 km. Danau ini terus tumbuh, menandai pergeseran yang terus terjadi.

Proses tektonik yang membentuk Danau Singkarak ini juga terjadi dalam pembentukan danau tektonik lain di Sumatera, seperti Danau Diatas dan Danau Dibawah (Sumatera Barat) serta Danau Kerinci di Jambi.

Bagi para geolog, paduan antara aktivitas tektonik dan vulkanik ini merupakan obyek penelitian yang menarik dan tiada duanya sebagaimana disebutkan Robert McCaffrey dari Rensselaer Polytechnic Institute dalam tulisannya ”The Tectonic Framework of the Sumatran Subduction Zone” (2008). Namun, gerak geologi Sumatera yang hiperaktif ini juga berarti ancaman besar dan mendorong kita untuk terus bersiaga.(Tim Penulis Cincin Api)
Artikel lebih lengkap baca http://www.cincinapi.com

Ngarai Sianok dan Lembah Harau

Googling cerita geologi Harau dan Ngarai Sianok, dan menemukan tulisan yang cukup lengkap ttg  kedua ikon sumatera barat ini.

http://erinutami.blogspot.co.id/2015/04/modul-geologi-wisata-ngarai-sianok-dan.html

Modul Geologi Wisata Ngarai Sianok dan Lembah Harau


NGARAI SIANOK
Ngarai Sianok adalah sebuah lembah curam (jurang) yang terletak di perbatasan kota Bukittinggi, di kecamatan IV KotoKabupaten AgamSumatera Barat. Lembah ini memanjang dan berkelok sebagai garis batas kota dari selatan ngarai Koto Gadang sampai ke nagari Sianok Anam Suku, dan berakhir di kecamatan Palupuh.
Ngarai Sianok yang dalam jurangnya sekitar 100 m ini, membentang sepanjang 15 km dengan lebar sekitar 200 m, dan merupakan bagian dari patahan yang memisahkan pulau Sumatera menjadi dua bagian memanjang (patahan Semangko). Patahan ini membentuk dinding yang curam, bahkan tegak lurus dan membentuk lembah yang hijau—hasil dari gerakan turun kulit bumi yang dialiri Batang Sianok (batang berarti sungai, dalam bahasa Minangkabau) yang airnya jernih. Di zaman kolonial Belanda, jurang ini disebut juga sebagai karbouwengat atau kerbau sanget, karena banyaknya kerbau liar yang hidup bebas di dasar ngarai ini.
GEOLOGI
Ngarai Sianok merupakan daerah endapan piroklastik dari gunung Merapi dan gunung Singggalang. Peristiwa terjadinya endapan piroklastik ini terjadi ribuan tahun yang lalu dan berangsur secara perlahan-lahan (tidak  langsung terbentuk endapan tebal). Kemudian baru terjadi patahan sebagaimana yang kita lihat pada saat sekarang ini.
Batuan tuff pada ngarai sianok merupakan batuan piroklastik yang berasal dari letusan gunung merapi dan gunung singgalang, dimana batuan tuff di daerah ini masih kelihatan segar (tuffunis). Batuan piroklastik merupakan batuan yang berasal dari abu vulkanik yang terlempar jauh akibat letuasan gunung berapi kemudian terendapkan dan terjadi litifikasi batuan. Yang memiliki ukuran butir Debu halus – kasar ( < 0,04 mm ).
Tuff (dari bahasa Italia "tufo") adalah jenis batu yang terdiri dari konsolidasi abu vulkanik yang dikeluarkan dari lubang ventilasi selama letusan gunung berapi.  Batu Tuff yang memiliki kenampakan warna yaitu putih terang, struktur batuannya berlapis, tekstur pada batuan tuff ialah fragmental dengan ukuran batuannya ialah ash / abu (d < 2 mm). Sedangkan bentuk dari tuff ialah fragmental. Petrogenesa dari batuan terbentuk dari hasil letusan gunung api dan kemudian diendapkan.


                                              Tebing Ngarai Sianok (Batuan Tuff)

Batuan tuff pada nagarai sianok bewarna abu-abu cerah dan sudah kompak sehingga tidak longsor. Batuan tuff ini memiliki daya rekat yang sangat kuat sehingga  dapat dipergunakan untuk bangunan-bangunan sebagai semen alam (Hidraulic Cement), lebih mudah kontak dengan air. Batuan piroklastik teksturnya berbeda dengan batuan beku, apabila batuan beku adalah hasil pembekuan langsung dari magma atau lava, jadi dari fase cair ke fase padat dengan hasil akhir terdiri dari kumpulan kristal, gelas ataupun campuran dari kedua-duanya. Sedangkan batuan piroklastik terdiri dari himpunan material lepas-lepas (dan mungkin menyatu kembali) dari bahan-bahan yang dikeluarkan oleh aktifitas gunung api, yang berupa material padat berbagai ukuran (dari halus sampai sangat kasar, bahkan dapat mencapai ukuran bongkah).
Batuan piroklastik adalah batuan yang dihasilkan oleh proses lisenifikasi bahan-bahan lepas yang dilemparkan dari pusat volkanis selama erupsi yang bersifat eksplosif. Bahan-bahan jatuhan kemudian mengalami litifikasi baik sebelum ditransport maupun rewarking oleh air atau es. (W.T.Huang,1962).
Batuan piroklastik adalah batuan vulkanik yang bertekstur klastik yang dihasilkan oleh serangkaian proses yang berkaitan dengan letusan gunung api, dengan material asal yang berbeda dimana material penyusun tersebut terendapkan dan terkonsolidasi sebelum mengalami transportasi oleh air atau es (William, 1982). Tekstur Batuan PiroklastikadalahVariasi batuan, pembundaran dan pemilihan batuan piroklastik mirip dengan batuan sediment klastik pada umumnya. Hanya unsur-unsur tersebut tergantung tenaga letusan, penguapan, tegangan permukaan dan pengaruh seretan.

 Struktur Geologi Daerah Ngarai Sianok  
Ngarai Sianok merupakan daerah patahan yang termasuk dalam deretan patahan semangko. Ngarai sianok merupakan salah satu patahan semangko yang terbuka. Berdasarkan hasil penelitian ahli geologi ITB bahwa pada ngarai sianok terjadi pergeseran secara horizontal, dengan jarak pergeseran 2 mm per hari, ini menunjukkan bagaimana pergerakan yang aktif pada ngarai sianok secara khusus atau deretan patahan semangko pada umumnya. Patahan semangko ini terbentang di bagian selatan pulau Suamtera yang biasanya dikenal dengan deretan bukit barisan. Patahan semangako ini terjadi akibat tumbukan dua lempeng yaitu lempeng India dan lempeng Indo- Australia.
Tingkat aktfinya patahan semangko sangat jelas, seperti di sumatera barat, saat gunung talang (di kab solok) aktif biasanya gunung merapi (di bukittinggi) juga ikut aktif, ini menunjukkana kedua gunung tersebut berada dalam satu rangkaian gunung aktif pada bukit barisan. Contohnya gempa Sumatera Barat 2007 akibat letusan gunung talang dan aktifnya gunung merapi.
Struktur sesar normal yang terlihat pada nagarai sianok adalah adanya gores garis pada dinding foot wallnya, adanya bidang sesar, adanya cermin sesar, adanya foot wall, adanya hanging wall. Batuan tuff pada ngarai sianok di bagian atasnya bewarna abu-abu terang dan bagian bawahnya ada yang bewarna kehitam-hitaman akibat termetamorfosa, teroksidasi, dan tereduksi.
Patahan terjadi ketika suatu batuan mengalami retakan terlebih dahulu yang kejadian ini berkaitan erat dengan tekanan dan kekuatan batuan yang mendapatkan gaya sehingga timbul adanya retakan. Tekanan yang diberikan mampu memberikan perubahan pada batuan dengan waktu yang sangat lama dan hingga memberikan gerakan sebesar seperseratus sentimeter bahkan sampai beberapa meter. Ketika ini terjadi, maka akan timbul sebuah gaya yang sangat besar yang berdampak getaran bagi sekitarnya saat suatu batuan mengalami patahan atau yang sering kita sebut dengan gempa. Arah pergerakkan pada suatu patahan tergantung pada kekutan batuan. Patahan diakibatkan oleh batuan yang ditekankan atau mendapatkan gaya yang pada umumnya dalam bentuk tekanan (pada umumnya membentuk lipatan) yang kemudian batuan dapat pecah.
Patahan terjadi searah dengan retakan. Sesar mempunyai bentuk dan ukuran bervariasi. Ukurannya ada yang sepanjang ratusan Km, ada yang hanya beberapa Cm saja. Contoh sepanjang ratusan km: sesar Semangko dan lempeng Australia.
Blok Semangko
Terletak diantara zone semangko sesaran lampung (Lampung fault). Bagian selatan dari blok semangko terbagi menjadi bentang alam menjadi seperti pegunungan semangko, depresi Ulehbeluh dan Walima, Horst Ratai dan depresi Telukbetung. Sedangkan bagian utara blok semangko berbentuk seperti dome.  Patahan semongko adalah bentukan geologi yang membentang di Pulau Sumatera dari utara ke selatan, dimulai dari Aceh hingga Teluk Semangka di Lampung. Patahan inilah membentuk Pegunungan Barisan, suatu rangkaian dataran tinggi di sisi barat pulau ini. Patahan semangko berusia relatif muda dan paling mudah terlihat di daerah Ngarai Sianok dan Lembah Anai.
Patahan ini merupakan patahan geser, seperti patahan San Andreas di California. Memanjang di sepanjang pulau sumatera, mulai dari ujung Aceh hingga Selat Sunda, dengan bidang vertical dan pergerakkan lateral mengarah-kanan (dextral- strike slip). Sesar ini menyebabkan terjadinya gempa di darat oleh sebab pelepasan energi di sesar/patahan semangko apabila sesar tersebut teraktifkan kemabali (peristiwa reaktivasi sesar) dengan bergesernya lapisan batuan di sekitar sesar tersebut. Pergerakkan sesar yang merupakan salah satu sesar teraktif di dunia ini diyakini disebabkan oleh desakan lempeng India-Australia ke dalam lempeng Eurasia.
Bagian barat sesar ini bergerak ke utara dan bagian timur bergerak ke selatan. Jika lama tidak terjadi gempa besar, artinya sedang terjadi pegumpalan energy di patahan tersebut. Di sepanjang patahan sumatera ini terdapat pula ribuan patahan kecil yang juga dapat mengakibatkan rawan gempa. Sepertinya halnya gempa asal laut, gempa darat di sumatera biasanya juga cukup besar dan menyebabkan kerusakan yang cukup parah.
Patahan terdiri dari beberapa tipe
Patahan Normal (Dip-Slip Fault), Kebalikan patahan normal (Reserve Fault), Patahan horizontal (Strike-Slip Fault), dan Gabungan patahan normal dan horizontal (Oblique- Slip Fault).
 
Sumber:

LEMBAH HARAU
Lembah Harau adalah sebuah ngarai dekat kota Payakumbuh di kabupaten Limapuluh Koto, provinsi Sumatera Barat. Lembah Harau diapit dua bukit cadas terjal dengan ketinggian mencapai 150 meter. Lembah Harau dilingkungi batu pasir yang terjal berwarna-warni, dengan ketinggian 100 sampai 500 meter. Topografi Cagar Alam Harau adalah berbukit-bukit dan bergelombang. Tinggi dari permukaan laut adalah 500 sampai 850 meter, bukit tersebut antara lain adalah Bukit Air Putih, Bukit Jambu, Bukit Singkarak dan Bukit Tarantang. Tebing-tebing granit yang menjulang tinggi dengan bentuknya yang unik mengelilingi lembah. Tebing-tebing granit yang terjal ini mempunyai ketinggian 80 m hingga 300 m. Dari mulai saat memasuki Lembah Harau, kita akan menemukan banyak keindahan yang memukau sepanjang jalan . Sangatlah cocok kalau sebagian pemanjat yang telah mengunjungi tempat ini memberi julukan Yosemite-nya Indonesia. Sebuah monumen peninggalan Belanda yang terletak di kaki air terjun Sarasah Bunta merupakan bukti bahwa Lembah Harau sudah sering dikunjungi orang sejak 1926. Pada monumen itu tertera tanda tangan Asisten Residen Belanda di Lima Puluh Koto saat itu, F. Rinner, dan dua pejabat Indonesia,Tuanku Laras Datuk Kuning nan Hitam dan Datuk Kodoh nan Hitam.


Asal Usul Nama Harau
Pada awalnya nama Harau berasal dari kata “Orau”. Penduduk asal tinggal di atas Bukit Jambu, dikarenakan daerah tempat tinggal penduduk tersebut sering banjir dan Bukit Jambu juga sering runtuh yang menimbulkan kegaduhan dan kepanikan penduduk setempat sehingga penduduk sering berteriak histeris akibat runtuhnya Bukit Jambu tersebut dan menimbulkan suara “parau” bagi penduduk yang sering berteriak histeris tersebut. Dengan cirri-ciri suara penduduk yang banyak “parau” didengar oleh masyarakat sekitarnya maka daerah tersebut dinamakan “orau” dan kemudian berubah nama menjadi Arau, sampai akhirnya menjadi Harau.

GEOLOGI
Lembah Harau mempunyai tujuh air terjun (sarasah) yang mempesona. Ketinggian masing-masing air terjun berbeda-beda antara 50-90 meter. Air terjun tersebut mengalir dari atas jurang yang membentang di sepanjang Lembah Harau. Lembah Harau ini terbentuk akibat adanya patahan turun atau block yang turun membentuk lembah yang cukup luas dan datar. Salah satu tanda-tanda atau untuk melihat dimana lokasi patahannya adalah dengan adanya air terjun. Ini artinya dahulu ada sungai yang kemudian terpotong akibat adanya patahan turun, sehingga membentuk air terjun. Secara geologi, batuan yang ada disitu berumur cukup tua, kira-kira 30-40 juta tahun. Batuan seumur ini yang sangat halus berupa serpih (besar butir lebih kecil dari pasir 1/16 mm) yang merupakan batuan yang banyak mengandung organic carbon, yaitu batuan yang terbentuk dari sisa-sisa organisme.
Beberapa ahli geologi berpendapat lembah Harau dulu adalah sebuah lautan, secara teoritis bisa benar, karena disana banyak sekali kita jumpai endapan-endapan laut yang belum terganggu itu saat ini berada didarat, hal itu secara teoritis bisa disimpulkan daerah itu dahulunya laut. Hal tersebut diperkuat oleh temuan dari survey team geologi Jerman (Barat) yang meneliti jenis bebatuan yang terdapat di Lembah Harau pada tahun 1980. Dari hasil survey team tersebut dapat diketahui bahwa batuan  yang ada di perbukitan Lembah Harau adalah batuan Breksi dan Konglomerat yang merupakan jenis bebatuan yang umumnya terdapat di dasar laut.

Batu Konglomerat
 
Konglomerat merupakan suatu bentukan fragmen dari proses sedimentasi, batuan yang berbutir kasar, terdiri atas fragmen dengan bentuk membundar dengan ukuran lebih besar dari 2mm yang berada ditengah-tengah semen yang tersusun oleh batupasir dan diperkuat & dipadatkan lagi kerikil. Dalam pembentukannya membutuhkan energi yang cukup besar untuk menggerakan fragmen yang cukup besar biasanya terjadi pada sistem sungai dan pantai.
 


Breksi merupakan batuan sedimen klastik yang memiliki ukuran butir yang cukup besar (diameter lebih dari dua milimeter) dengan tersusun atas batuan dengan fragmen menyudut (tajam). Ruang antara fragmen besar bisa diisi dengan matriks partikel yang lebih kecil atau semen mineral yang mengikat batu itu bersama-sama.

Batu Breksi

Bukit yang ada dilembah Harau terjadi akibat pengangkatan daratan, dan juga penurunan bukit bukan hanya turunnya salah satu bukit, tetapi juga "pengangkatan" sebuah dataran juga. Kedua proses ini berjalan simultan. Hal tersebut tebukti dari Endapan batuan penyusun tembing-tebing harau itu adalah endapan dataran rendah (endapan sungai) yang sekarang sudah menjadi sebuah bukit,tentu itu mebuktikan kepda seorang ahli geologi bahwa bukit ini adalah akibat pengangkatan daratan. Dimana pengangkatan dan penurunan daratan terjadi akibat gaya endogen bisa saja terjadi karena kita tahu Tektonisme (diastropisme) terdiri atas tenaga epirogenesa dan tenaga orogenesaTenaga epirogenesa merupakan proses pengangkatan (negative) atau penurunan (positive) letak bumi dalam wilayah luas dengan kecepatan relatif lambat. Kemudian ,tentang pengangkatan dapat dibuktikan juga dengan banyaknya batuan batuan yang mengandung fosil makhluk laut di bukit Lembah Harau.Selanjutnya, akibat gaya endogen juga Lembah Harau  terbentuk juga akibat adanya patahan turun atau block yang turun membentuk lembah yang cukup luas dan datar. Salah satu tanda-tanda atau untuk melihat dimana lokasi patahannya adalah dengan adanya air terjun. Ini artinya dahulu ada sungai yang kemudian terpotong akibat adanya patahan turun, sehingga membentuk air terjun.
Gaya eksogen yang bekerja adalah erosi, Salah satu yang menarik di Lembah Harau adalah terbing yang terjal yang menjulang tinggi.Kemungkinan proses terjadinya tebing terjal yang seperti batu ditebas pedang itu adalah akibat erosi ribuan tahun telah menggerus batuan lunak, dan yang tersisa adalah batuan keras yang berdiri terjal tersebut. Jadi, dahulu ada sebuah daratan batuan yang cukup besar terangkat dan tingkat kekerasannya tidak merata, kemudian lama kelamaan batuan yang tidak begitu keras atau lembut terkikis dengan berjalannya waktu dan akhirnya tinggallah batuan yang memiliki kekerasan cukup tinggi dan tak mudah terkikis beberapa bagian dari batuan yang tidak terkikis itu ada yang mengalami pertambahan kenaikan dan ada penurunan.

OBJEK WISATA
Kawasan objek wisata Lembah Harau terdiri dari 3 (tiga) kawasan : Kawasan Aka Barayu, Sarasah Bunta, dan Rimbo Piobang.
Pada kawasan Aka Barayun yang memiliki keindahan air terjun yang mempunyai kolam renang, yang memberikan nuansa alam yang asri juga berpotensi untuk pengembangan olah raga panjat tebing karena memiliki bukit batu yang terjal dan juga mempunyai lokasi yang bias memantulkan suara (echo). Konon Sarasah Aka Barayun dari legenda dalam masyarakat yang berada di sekitarnya Cagar Alam Lembah Harau dulunya adalah Laut.
Kawasan Sarasah Bunta yang terletak disebelah timur Aka Barayun, memiliki empat air terjun (sarasah) Aie Luluih,  Bunta, Murai dan Aie AngekSarasah Aie Luluih,  air yang mengalir melewati dinding batu dan dibawahnya mempunyai kolam tempat mandi alami yang asri, dari cerita dari orang tua-tua dulu, ada kepercayaan mandi atau membasuh muka di sarasah aie luluih dapat mengobati jerawat dan muka akan terlihat cantik dan awet muda. Sarasah Bunta dimana sarasah ini mempunyai air terjunnya yang berunta-unta indah seperti bidadari yang sedang mandi apabila terpancar sinar matahari siang sehingga dinamakan “Sarasah Bunta” . Sarasah Murai , pada sarasah ini sering pada siangnya burung murai mandi sambil memadu kasih sehingga masyarakat menamakan “Sarasah Murai “.dan apabila mandi di bawah air terjun kedua sarasah ini, dengan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa , lekas mendapat jodoh bagi yang belum menikah. Sarasah Aie Angek belum banyak dikunjungi wisatawan, airnya agak panas berada arah keutara dari “Sarasah Murai”.
Sedangkan pada kawasan Rimbo Piobang sampai akhir tahun 2008 belum berkembang karena direncanakan untuk Taman Safari.

Sumber:
https://future20.wordpress.com/2013/03/08/jenis-jenis-batuan-ciri-ciri-dan-proses-terbentuknya/
  





Kumpulan tulisan tentang geologi sumatera

Mewujudkan niat: menikmati alam dan mempelajari nya, sebagai seorang geolog dg pemahaman yang sangat terbatas, saya mencoba mengumpulkan tulisan mengenai daerah yang kami sudah kunjungi.

Berikut cerita geologi tentang sumatera secara umum,

Sumber:

http://sains.kompas.com/read/2013/11/14/0858354/Menggugat.Asal-usul.Pulau.Sumatera

KOMPAS.com
 - Apa yang sudah diketahui tentang Sumatera, bumi tempat cerita Malin Kundang lahir?

Kita sudah tahu bahwa pulau terbesar keenam di dunia itu rawan gempa. Ada patahan sepanjang lebih dari 1.000 km yang aktivitasnya siap mengguncang wilayah sekitarnya. Di lepas pantai, terdapat zona subduksi pemicu gempa dahsyat bermagnitudo 9,1 yang mengakibatkan tsunami mematikan di Aceh pada tahun 2004.
Namun, tak banyak orang yang tahu tentang bagaimana Sumatera terbentuk. Apakah kampung halaman orang Batak dan Minang itu dari dulu memang cuma satu keping daratan saja?
Sebelumnya, Sumatera dianggap tepian benua Eurasia. Di lepas pantai bagian barat Sumatera, terdapat zona subduksi tempat bertemunya lempeng samudra Indo-Australia dengan lempeng benua Eurasia. Berdasarkan anggapan tersebut, Sumatera pun dianggap sejak dahulu merupakan satu pulau.
Tetapi, riset terbaru meragukan pandangan lama itu. Menurut data geokimia yang dikumpulkan oleh peneliti geologi dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Iskandar Zulkarnain, Sumatera dulu pulau-pulau yang terpisah, setidaknya ibarat dua bagian daratan yang menyatu.
"Sumatera bukan sepenuhnya bagian dari lempeng benua Eurasia," kata Iskandar dalam orasi pengukuhan dirinya sebagai guru besar riset Agustus 2013 lalu.
Berdasarkan hasil analisis geokimia, wilayah Sumatera terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian barat yang merupakan busur kepulauan, bagian timur yang merupakan zona tepian lempeng Eurasia serta wilayah antarlempeng benua.
Di Bengkulu, wilayah yang merupakan bagian dari busur kepulauan adalah kota Bengkulu. Sementara, wilayah yang merupakan tepian Eurasia antara lain Lebok Tambang, dekat Muara Aman.
Kota lain di Sumatera yang diduga merupakan bagian dari busur kepulauan adalah Padang. Sementara, kota yang diduga merupakan bagian tepian Eurasia adalah Jambi, Pekanbaru, dan Palembang.
"Batasnya adalah sesar Sumatera,"  ucap Iskandar.
siaga.orgPatahan Sumatera dan gempa-gempa yang pernah diakibatkan oleh aktivitasnya. Patahan Sumatera diangga sebagai batas antara wilayah Sumatera yang masuk lempeng Eurasia dengan busur kepulauan.

Untuk mengungkap asal-usul Sumatera itu, Iskandar mengumpulkan batuan volkanik dan intrusif di sepanjang Sumatera, diantaranya dari wilayah Lampung, Bengkulu, dan Madina, Sumatera Utara.
Puluhan batuan didapatkan, diantaranya 30 batu volkanik dari Lampung dan 40 batu volkanik dari Bengkulu. Kandungan kimia batuan, termasuk unsur utama (major elements), unsur jejak (trace elements), dan unsur jarang (rare elements) kemudian dilihat.
"Yang kita lihat terutama adalah unsur jejak dan unsur jarang. Kandungan unsur jejak dan unsur jarang pada batuan di busur kepulauan dan lempeng benua berbeda," jelas Iskandar.
Kandungan unsur batuan memang bisa menjadi indikasi asal-usul batuan tersebut, pada lingkungan seperti apa batuan terbentuk. Batu volkanik yang berasal dari lingkungan busur kepulauan memiliki kandungan Potassium, Ytterbium, dan Tantalum lebih tinggi namun Fosfat, Titanium, dan Strontium lebih rendah.
Data unsur dalam batuan yang didapatkan kemudian disusun dalam beberapa diagram, antara lain dalam diagram unsur Tantalum/Ytterbium vs Cerium/Fosfat dan Tantalum/Ytterbium vs Ytterbium. Plot dalam diagram akan menunjukkan sebuah pola.
"Pola yang terlihat menunjukkan asal-usul batuan," kata Iskandar.
Di Lampung , wilayah busur kepulauan ditandai dengan rasio Tantalum/Ytterbium kurang dari 2 dan Cerium/Fosfat kurang dari 1,8. Sementara, wilayah tepian benua punya rasio Tantalum/Ytterbium antara 2 hingga 4 dan Cerium/Fosfat lebih dari 1,8. Wilayah antarlempeng memiliki tasium Tantalum/Ytterbium lebh besar dari 6 dan Cerium/Fosfat lebih bersar dari 1.
Iskandar belum mengetahui asal busur kepulauan tersebut dan kapan busur kepulauan menyatu dengan Sumatera. Namun, ia memerkirakan, bersatunya busur kepulauan dengan lempeng benua Eurasia terjadi lebih dari 25 juta tahun lalu, lebih tua dari masa Miocene.
Tiga versi sejarah Sumatera
Geolog Awang Harun Satyana mengungkapkan, pandangan bahwa Sumatera tidak sepenuhnya merupakan bagian dari Eurasia sudah berkembang lama. Pada tahun 1984, N.R. Cameroon dari British Geological Survey A. Pulunggono dari Pertamina pernah menyampaikan gagasan itu.
Awang mengatakan, berdasarkan gagasan itu, bagian barat Sumatera disusun oleh busur Woyla. Busur lautan itu sekitar 150 juta tahun lalu berlokasi di dekat Australia, bersama daratan India dan Banda. Karena pergerakan tektonik, busur itu kemudian menyatu dengan Sumatera.
"Itu terjadi pada zaman Kapur tengah, sekitar 100 - 80 juta tahun lalu," kata Awang saat dihubungi Kompas.com beberapa waktu lalu.
Makalah yang ditulis oleh Robert Hall, pakar tektonik Asia Tenggara ternama dari University of London, berjudul "Late Jurassic–Cenozoic reconstructions of the Indonesian region and the Indian Ocean" sedikit membahas gagasan tentang bersatu atau naiknya busur Woyla dengan atau ke atas daratan Sumatera.
Pulunggono dan Cameroon, seperti dikutip Hall dalam makalahnya yang diterbitkan Elseveir tahun 2012, mengungkapkan bahwa busur Woyla yang naik ke Sumatera mencakup mikro-kontinen.
Geolog lain, M.R. Wajzer dan A.J. Barber, juga dari University of London, mengatakan bahwa busur Woyla merupakan busur intra-lautan yang terbentuk pada zaman Kapur Awal dan kemudian menumbuk Sumatera.
Hall sendiri menganggap bahwa terdapat mikro kontinen yang menabrak Sumatera pada zaman Kapur itu, yang ditandai dengan naiknya busur Woyla ke atas Sumatera. Mikro kontinen terus bergerak ke timur sehingga menghentikan sistem penunjaman yang ada dan akibatnya hampir tak ada aktivitas vulkanik pada saat itu.
Robert HallRekonstruksi Asia Tenggara 150 juta tahun lalu. Di dekat Australia, terdapat Busur Woyla yang kemudian akan menyatu dengan Sumatera.

Namun, menurut Iskandar, apa yang diungkapkan oleh Pulunggono, Cameroon, Barber, dan Hall sama sekali tidak menyebut adanya bagian Sumatera yang merupakan busur kepulauan.
"Mereka bicara pada Zaman Kapur (sekitar 100 juta tahun yang lalu) karena Woyla Group itu memang usianya sangat tua, sedangkan data saya berasal dari batuan volkanik berusia Miosen (kurang dari 25 juta tahun yang lalu)."
Rovicky Dwi Putrohari dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) mengungkapkan, gagasan bahwa Sumatera terdiri atas busur kepulauan pernah berkembang sebelumnya. Namun, penelitian Iskandar adalah salah satu yang paling awal memberi bukti ilmiah.
"Penelitian ini memberi bukti geokimia bahwa memang bagian barat Sumatera adalah busur kepulauan," katanya.
Menurut Rovicky, ada tiga versi sejarah geologi pembentukan Sumatera yang berkembang saat ini. Versi pertama mengungkapkan bahwa pulau Sumatera sepenuhnya bagian dari tepi lempeng benua Eurasia. Versi kedua, seperti yang diyakini Pulunggono, Cameroon, dan Hall, Sumatera terbagi atas lempeng benua Eurasia di bagian timur dan mikro-kontinen di bagian barat.
Sementara, dengan tambahan gagasan Iskandar, ada versi ketiga, dimana Sumatera terdiri dari tepi lempeng benua di bagian timur dan busur kepulauan di bagian barat.
Mana yang benar?
Rovicky mengungkapkan, banyak geolog saat ini memandang bahwa Sumatera merupakan lempeng benua Eurasia hanya untuk mempermudah saja.
Pada dasarnya, geolog setuju bahwa Sumatera tidak sepenuhnya merupakan bagian dari Eurasia. Namun, komponen lain Sumatera dan pembentukannya masih menjadi perdebatan.
Apa pentingnya sejarah Sumatera?
Iskandar mengungkapkan, pengetahuan tentang asal-usul Sumatera penting baik bagi kebencanaan maupun dalam bidang mineralogi.
Menurut Iskandar, bila Sumatera memang terdiri atas busur kepulauan dan lempeng benua Eurasia, gagasan itu juga harus diadaptasi dalam kebencanaan.
"Kalau berasal dari busur kepulauan yang merupakan samudera dan lempeng benua atau kontinen, maka pergerakan lempeng lebih fleksibel sehingga potensi gempa lebih besar," katanya.
Rovicky menuturkan, potensi gempa juga akan lebih besar bila bagian barat Sumatera tersusun atas mikro-kontinen.
"Akan lebih rapuh," paparnya.
Dalam bidang mineralogi, Iskandar mengatakan,  gagasan baru pembentukan Sumatera ini juga akan memengaruhi pengetahuan tentang penyebaran logam di Sumatera. "Wilayah timur Sumatera mungkin juga menyimpan logam berharga," kata Iskandar.

tulisan lain yang berhubungan dengan teknonik indonesia:

https://ceressajjah.wordpress.com/2012/06/03/tentang-tektonik-dan-geologi-struktur-indonesia/


12.28.2016

Main Ke Sumatera Barat (11 hari 11 malam road trip) #the lesson







Seperti trip trip sebelum nya banyak hal yang kita alami dan temui yg memberi pelajaran yg insyaAlloh mengayakan pundi pundi jiwa ( tsaaahhhhh)


Dari mulai persiapan, kita memang ngga buat persiapan yang terlalu menjelimet apalagi sampe over prepare. Sejak memutuskan akhirnya akan nge trip ke sumbar, yang kita lakukan adalah check lintasan, baca baca dari tulisan di blog lain mengenai road trip, gimana jalannya, jalur mana yang mau diambil, keadaan  secara umum daerah yang akan di lintasi.

Kemudian estimasi waktu, kesampaian daerah. di tempat mana kira kira akan stop untuk istirahat. soal tempat makan kita ngga picky, yang penting bisa selonjoran lempengin badan sebentar :)

Lalu check daerah tujuan, wisata nya apa saja dan tempat menginap. keluarga kami type pejalan yang suka berlama lama menikmati daerah tujuan, jadi seringnya akan menginap di tempat tempat tujuan, ngga sekedar liat lita istirahat trus cabut, kalau kata suami di explore sampe bosen (dan ga pernah kejadian bosen nya yang ada betah :D). kita juga ngga booking dari awal. karena trip seringnya kita lakukan tidak di high season. jadi yang kita lakukan adalah datang ke tempat tujuan, dengan referensi hotel yang sesuai kualifikasi hasil browsing browsing, lalu di lihat langsung keadaan real nya, baru di book. banyak hotel overing harga lebih rendah dari pada menggunakan aplikasi booking. so ga usah terlalu bergantung dengan aplikasi aplikasi yang nawarin booking hotel harga murah, kebanyakan slogan saja ;) (*based on my personal experience).

waktu eksekusi, bertanya merupakan senjata paling ampuh. Connecting people, get rid of your Mobile. Nyari jalan, bingung peta sama Gmap ga match, Nanya! Nyari hotel mau tau harga yang paling ekonomis, Nanya! Nanya, Nanya dan Nanya. banyak kejadian menyenangkan dengan bertanya sama orang. kita denger dialek orang setempat, kita jadi nambah kenalan, dan rata rata mereka senang di tanya dan diajak bicara. salah satu cara ngilangin indentitas sebagai turis, tapi lebih berusaha jadi teman yang berkunjung (masih proses )


satu pengalaman nyata, booking dg salah satu aplikasi, karena waktu itu mau nginep dan pas malam minggu. antisipasi rame, udah sempat nanya hotel yang diinginkan dan tyt full book. akhirnya ga pikir panjang langsung booking lwt aplikasi, salahnya ga nanya dulu ke hotel yang mau di book.. dan dapat harga 30% jauh lebih mahal dari rate di hotel :(
sudah coba konfirmasi ke admin aplikasi nya, tapi ya jawabannya normatif aja sih. good lesson besok besok ga langsung pakai aplikasi buat booking, tapi NANYA!!!! :)))

sempat nyasar nyasar dikit dan terselamatkan juga dengan NANYA!! ;)

dan lalu setelah segala persiapan itu, let it flow aja, expect the unexpected, miracle always happen :)
selanjutnya mata lidah perut hati dinyamankan dengan suguhan tempat tempat wisata yang bikin tabungan jiwa surplus, sangat bersykur, dikasi kesehatan, kesempatan dan berkah kebaikan dari perjalannnya terus terasa dan berpengaruh dalam menjalani kesibukan selanjutnya di depan

ah can't wait for another trip , soon!! :D


12.27.2016

Main Ke Sumatera Barat (11 hari 11 malam road trip) #3 (habis)







Singkarak tujuan selanjutnya. Danau tektonik yang sayang jika di lewatkan. jarak dari padang sekitar 3 jam. Berkunjung dan tentu saja menginap. Hanya hotel sumpur singkarak ini, hotel yang pelayanan dan fasilitas nya tidak memadai, kena charge tax and service 21 % pulak :p tapi cukup terbayar dengan pemandangan singkarak yang luar biasa, saat habis hujan rentangan pelangi terlukis di permukaan danau....









Besok nya kami memulai perjalanan pulang, kali ini mengambil lintas pantai timur sumatera.
persinggahan pertama jambi, jarak singkarak ke jambi sekitar 10 jam berkendara. jalanan nya cukup baik dan sajian pemandangan yg bikin seger mata. 
di perjalanan kami singgah makan siang di perbatasan Sumbar - Jambi, makan sambal tempoyak dengan ikan baung goreng, nyammmmm lah sudah :)
Menginap semalam di Jambi lanjut ke palembang. Jalan antar Jambi ke palembang yang sedianya 6 jam saja, melar jadi 9 jam. jalanan berlubang, amblas dan rusak parah. heran padahal kota penghasil minyak, jalanya kenapa jelek ya? mungkin karena di lalui kendaraan super berat, dan kemampuan jalan yang kurang memadai. 
Sampai di palembang, menginap semalam, ga lupa nyantap mpek mpek, laksan, tekwan dan melintas jembatan ampera the ikon :)


Laksan , mpek mpek yang di rebus, dimakan dengan kuah gulai, nyammmmm


Dari palembang, lanjut lampung, rencana singgah di Way kambas, sekalian main lah mumpung masih di sumatera. Menginap di another suprisingly hotel bagus dan worth. Yestoya. Bersih, nyaman, terpelihara, ada kolam ikan dan kolam manusia :) resto 24 jam dan staff yang well trained. eh ada karaoke nya lokh he he recomended lah :)
Pagi nya main ke way kambas. liat gajah mandi. naik gajah. dan sarapan. kata suami sih yang ke sana 20 th yll (lama beut :p) beda banget. Suasana natural nya kurang terasa. karena jadi semi wisata...memudahkan wisatawan sih tapi ya natural sense nya jadi berkurang...tapi resiko sih ya. Positipnya ngenalin konsep pelestarian hewan terutama gajah ke masyarakat awam, resiko nya ya agak bergeser jadi bisnis pertunjukan, moga moga sih ngga ke bablasan ;)






Dan sampailah kami di akhir trip ini, alhamdulillah.....semoga trip selanjutnya lebih menyenangkan lagi :)