8.24.2005
Dan..Aku Masih Menangis ;(
Hari ini aku menangis lagi… entah yang keberapa. Ribuan kali sudah aku lakukan, menangisi mu menangisi ku, menangisi kita. Entah, padahal sudah berulang-ulang, semestinya aku sudah lebih kebal, kebal karena terbiasa, kebal karena sudah berulang.Semestinya sudah tak ada sakit lagi..
Tempat tidur kita hanya terisi tiga nyawa, akan menjadi empat, satunya masih di rahimku.
Si sulung tampak terbaring kelelahan. Tadi siang dia menghabiskan waktunya bermain di pinggir pematang sawah di depan rumah kita. Baru belajar main layangan dia. Kalau saja kau melihat aksinya, seperti seorang yang professional berlari, melompat, mencoba menerbangkan layang-layang yang tak kunjung naik. Sesekali terpeleset, jatuh ke sawah, menangis, tapi bukan dia kalau mudah menyerah, dia coba lagi, lagi dan lagi… sampai akhirnya layang-layangnya terbang tinggi. Kalau saja kau lihat betapa wajah kanak-kanaknya begitu ceria kesenangan, gembira akan keberhasilannya seperti suatu prestasi besar, seperti ego kanak kanak yang muncul atas keberhasilan penaklukan. Aku tertegun Ia sangat sepertimu, ah kalau saja kau melihatnya.
Si bungsu, ah si tengah sebentar lagi ia akan menjadi si tengah. Dia lebih suka menghabiskan waktunya dalam rumah. Ia lebih tertarik membongkar-bongkar perpustakaan kecil kita. Ia menyukai melihat yang belum pernah ia lihat. Matanya begitu berbinar terkadang keningnya berkerut, lucu seperti memikirkan sesuatu, seperti mencoba mencerna apa yang dilihatnya. Semuanya terpuaskan dengan buku-bukunya yang bergambar dan penuh warna, kau belikan untuknya minggu lalu, masih ingat? Ah andai saja kau ingat.
Si bungsu, ah ia akan menjadi si bungsu tak lama lagi. Ia mulai menendang-nendang.. Tidak! kau bilang bukan menendang, tapi mengusap manja hingga terkadang perutku terasa sakit dan sedikit ngilu. “Tapi sakit itu membahagiakan bukan?” Ujarmu saat itu. Kau sering mengajaknya bicara atau sekedar membisikkan selamat malam. Tapi tidak malam ini.
Hujan turun deras sejak sore tadi. Malam ini gerimisnya masih ada, suaranya mengalunkan musik alam, musik natural, aransemen Tuhan. Indah karna Tuhan adalah Keindahan, katamu. Kau mengungkapkan segalanya dengan cara yang begitu aku sukai. Segalanya?? Kau dengan caramu mencintaiku…Kau dengan caramu …………………………melukaiku.
“………..dan peluklah cinta, meski dibalik sayapnya tersembunyi pisau yang akan melukaimu……….”
Malam ini aku begitu gelisah, firasatku mengatakan hal buruk itu akan berulang. Kau tahu saat itu begitu pahit. Hancur lebur kepercayaanku padamu. Sulit untukku membangunnya kembali, sulit untukku melupakan …….kau dan….ah terlalu sakit untuk mengingatnya ….tapi kau dengan cinta mu memohon,”demi anak-anak kita…” dan aku pun luluh .
Malam Ini aku coba menenangkan diri, aku coba mempertahankan keyakinanku yang kian tipis padamu. Kepercayaanku yang sebelumnya kokoh dan kau robek. Kepercayaanku yang satu demi satu kukumpulkan lagi dari serpih puing-puing.
Satu SMS terkirim di ponsel mu tadi pagi, roman wajahmu saat itu tampak biasa saat membacanya, atau dibuat tampak sewajar mungkin?! Dan kau lalu tergesa, bersiap pergi dan tampaknya tak pulang paling tidak untuk malam ini.
“Mau kemana?”
“Temanku memintaku menemaninya meliput, mungkin aku pulang malam atau paling telat shubuh”
Aku diam,yah aku hanya bisa terdiam. Kau pergi, bahkan tanpa mengucap slamat tinggal pada anak-anak. Begitu tergesa sehingga ponselmu tertinggal dan aku sempat membaca satu pesan singkat “aku telat” dikirim hari ini, pagi ini. Makna pesan itu…..?!, aku mencoba berfikir jernih, menahan hati, “ah bisa berarti apa saja”, Aku tak mau terlalu cepat berprasangka. Tak ada nama di pesan itu hanya nomor, berarti kau tidak menyimpannya di buku telephon mu (atau sengaja tak menyimpannya). Aku gelisah, batinku bertarung. Prasangka buruk dan baik bergumul. Aku tahan sampai malam ini, tapi tidak! Rasanya memang ada yang tidak benar. Rasa ngilu yang dulu muncul lagi, menusuk-nusuk, menghantam, menghujam.. Dengan masih memakai piyama, aku meraih mantelku. Aku membangunkan Si Sulung dan menggendong Si Tengah. Ku nyalakan mobil dan pergi, bahkan aku lupa mengunci pintu rumah. Perasaanku semakin kacau, Aku kalut, Aku bingung, Aku takut.. Aku mulai panik, hendak kemana kami. Mana arah yang harus kami tuju, Aku masih terus mengikuti naluri yang kacau, berbelok, memutar di suatu jalan, berbalik lagi………………seperti gila!!
Tapi kemudian kucoba menguasai pikiranku, menjernihkannya, kulihat anak-anakku tertidur, aku mulai menguasai diri.
Setelah 1 jam lebih berputar aku melewati satu rumah. Naluriku mengatakan untuk berhenti di sana. Anak-anakku terbangun, terpaksa kugendong si Tengah, si Sulung mengikutiku turun. Di depan rumah itu aku melihat sepatu mirip dengan yang sering kau pakai. Aku terkesiap, aku mencoba tenang, ah mungkin kau memang ‘hanya’ menginap di rumah salah satu ‘temanmu’. Aku mengetuk pintu, Si Tengah mulai menangis…………………………………
Seorang perempuan dengan mantel tidur satin transparan dan rambut tergerai agak berantakan, tersenyum, bingung, cantik..dia cantik aku begitu mengingatnya.
“Cari siapa Mbak?” tanyanya lembut.
Tidak perlu kujawab karna kau, berdiri di belakangnya….
Hari ini aku menangis, mengapa aku masih menangis……ini sudah berulang…mungkin aku menangis karena takan berulang, tak akan pernah lagi berulang……………………………………..
Di luar hujan mulai reda, dan aku masih menangis.
Tempat tidur kita hanya terisi tiga nyawa, akan menjadi empat, satunya masih di rahimku.
Si sulung tampak terbaring kelelahan. Tadi siang dia menghabiskan waktunya bermain di pinggir pematang sawah di depan rumah kita. Baru belajar main layangan dia. Kalau saja kau melihat aksinya, seperti seorang yang professional berlari, melompat, mencoba menerbangkan layang-layang yang tak kunjung naik. Sesekali terpeleset, jatuh ke sawah, menangis, tapi bukan dia kalau mudah menyerah, dia coba lagi, lagi dan lagi… sampai akhirnya layang-layangnya terbang tinggi. Kalau saja kau lihat betapa wajah kanak-kanaknya begitu ceria kesenangan, gembira akan keberhasilannya seperti suatu prestasi besar, seperti ego kanak kanak yang muncul atas keberhasilan penaklukan. Aku tertegun Ia sangat sepertimu, ah kalau saja kau melihatnya.
Si bungsu, ah si tengah sebentar lagi ia akan menjadi si tengah. Dia lebih suka menghabiskan waktunya dalam rumah. Ia lebih tertarik membongkar-bongkar perpustakaan kecil kita. Ia menyukai melihat yang belum pernah ia lihat. Matanya begitu berbinar terkadang keningnya berkerut, lucu seperti memikirkan sesuatu, seperti mencoba mencerna apa yang dilihatnya. Semuanya terpuaskan dengan buku-bukunya yang bergambar dan penuh warna, kau belikan untuknya minggu lalu, masih ingat? Ah andai saja kau ingat.
Si bungsu, ah ia akan menjadi si bungsu tak lama lagi. Ia mulai menendang-nendang.. Tidak! kau bilang bukan menendang, tapi mengusap manja hingga terkadang perutku terasa sakit dan sedikit ngilu. “Tapi sakit itu membahagiakan bukan?” Ujarmu saat itu. Kau sering mengajaknya bicara atau sekedar membisikkan selamat malam. Tapi tidak malam ini.
Hujan turun deras sejak sore tadi. Malam ini gerimisnya masih ada, suaranya mengalunkan musik alam, musik natural, aransemen Tuhan. Indah karna Tuhan adalah Keindahan, katamu. Kau mengungkapkan segalanya dengan cara yang begitu aku sukai. Segalanya?? Kau dengan caramu mencintaiku…Kau dengan caramu …………………………melukaiku.
“………..dan peluklah cinta, meski dibalik sayapnya tersembunyi pisau yang akan melukaimu……….”
Malam ini aku begitu gelisah, firasatku mengatakan hal buruk itu akan berulang. Kau tahu saat itu begitu pahit. Hancur lebur kepercayaanku padamu. Sulit untukku membangunnya kembali, sulit untukku melupakan …….kau dan….ah terlalu sakit untuk mengingatnya ….tapi kau dengan cinta mu memohon,”demi anak-anak kita…” dan aku pun luluh .
Malam Ini aku coba menenangkan diri, aku coba mempertahankan keyakinanku yang kian tipis padamu. Kepercayaanku yang sebelumnya kokoh dan kau robek. Kepercayaanku yang satu demi satu kukumpulkan lagi dari serpih puing-puing.
Satu SMS terkirim di ponsel mu tadi pagi, roman wajahmu saat itu tampak biasa saat membacanya, atau dibuat tampak sewajar mungkin?! Dan kau lalu tergesa, bersiap pergi dan tampaknya tak pulang paling tidak untuk malam ini.
“Mau kemana?”
“Temanku memintaku menemaninya meliput, mungkin aku pulang malam atau paling telat shubuh”
Aku diam,yah aku hanya bisa terdiam. Kau pergi, bahkan tanpa mengucap slamat tinggal pada anak-anak. Begitu tergesa sehingga ponselmu tertinggal dan aku sempat membaca satu pesan singkat “aku telat” dikirim hari ini, pagi ini. Makna pesan itu…..?!, aku mencoba berfikir jernih, menahan hati, “ah bisa berarti apa saja”, Aku tak mau terlalu cepat berprasangka. Tak ada nama di pesan itu hanya nomor, berarti kau tidak menyimpannya di buku telephon mu (atau sengaja tak menyimpannya). Aku gelisah, batinku bertarung. Prasangka buruk dan baik bergumul. Aku tahan sampai malam ini, tapi tidak! Rasanya memang ada yang tidak benar. Rasa ngilu yang dulu muncul lagi, menusuk-nusuk, menghantam, menghujam.. Dengan masih memakai piyama, aku meraih mantelku. Aku membangunkan Si Sulung dan menggendong Si Tengah. Ku nyalakan mobil dan pergi, bahkan aku lupa mengunci pintu rumah. Perasaanku semakin kacau, Aku kalut, Aku bingung, Aku takut.. Aku mulai panik, hendak kemana kami. Mana arah yang harus kami tuju, Aku masih terus mengikuti naluri yang kacau, berbelok, memutar di suatu jalan, berbalik lagi………………seperti gila!!
Tapi kemudian kucoba menguasai pikiranku, menjernihkannya, kulihat anak-anakku tertidur, aku mulai menguasai diri.
Setelah 1 jam lebih berputar aku melewati satu rumah. Naluriku mengatakan untuk berhenti di sana. Anak-anakku terbangun, terpaksa kugendong si Tengah, si Sulung mengikutiku turun. Di depan rumah itu aku melihat sepatu mirip dengan yang sering kau pakai. Aku terkesiap, aku mencoba tenang, ah mungkin kau memang ‘hanya’ menginap di rumah salah satu ‘temanmu’. Aku mengetuk pintu, Si Tengah mulai menangis…………………………………
Seorang perempuan dengan mantel tidur satin transparan dan rambut tergerai agak berantakan, tersenyum, bingung, cantik..dia cantik aku begitu mengingatnya.
“Cari siapa Mbak?” tanyanya lembut.
Tidak perlu kujawab karna kau, berdiri di belakangnya….
Hari ini aku menangis, mengapa aku masih menangis……ini sudah berulang…mungkin aku menangis karena takan berulang, tak akan pernah lagi berulang……………………………………..
Di luar hujan mulai reda, dan aku masih menangis.
February 2004 (for lovely fat, your story inspiring euy…)
