1.08.2007

Balada Pokinem

Pokinem pulang dengan hati sumringah. Setelah dapat kesempatan mudik pulang kampung, itupun setelah 3 tahun tidak (boleh) mudik, dg alasan orang tua pokinem kebanyakan ngutang dg majikannya, sehingga sang majikan takut pokinem ngabur sebelum hutangya sempat terbayar dg tenaga Pokinem.
Dan ketika kesempatan mudik datang pokinem tidak menyia-nyiakannya. Tadinya ingin agak berlama-lama melepas dg adik adiknya yang bertujuh. Mengajak mereka jalan jalan naik andong lalu main main ke pantai, sekedar beli baju baru di emperan dekat pasar dg harapan harganya tidak melebihi harga beras per-kilonya.
Tapi pikir-pikir pokinem lebih baik segera pulang, mesti majikannya senang karena dia cepat datang sehingga tak berlama lama tugas-tugas pokinem terbengkalai. Tokh majikannya sudah dianggapnya ibu sendiri yang selama ini mengajarinya dan tempat dia menimba ilmu, majikan perempuannya suka bilang, “semestinya aku ndak bayar gajimu. Tokh kamu yang banyak ambil ilmu ku dari mulai masak, mberesi rumah, ngurusi org org sebanyak ini, semua ilmuku ku kasih kamu. Hari begini sekolah mahal, kamu dapat gratisan, eh digaji pula. Mustinya kamu banyak banyak trima kasih sama aku, nem.” Ya bu majikan memang baik mau ngajari Pokinem berbagai hal, jika tidak mungkin sekarang Pokinem masih bocah bodo yang ga bisa apa apa seperti kata bu majikan.
Meski kadang mangkel dg Pak majikan yang suka mbentak mbetak dan treak treak, Pak majikan kerap mengatainya kambing bodoh yang sedikit gendeng.
Karena kadang Pokinem sedang mengerjakan sesuatu dan belum lagi selesai, Pak majikan sudah berteriak teriak memanggilnya melakukan hal lain lagi. Akhirnya kadang Pokinem biarkan saja, pura pura budeg. Pokinem jadi teringat saat sedang menggoreng tempe Pokinem di suruh memberesi bagian atas rumah majikannya. Karena takut dimarahi pokinem serta merta pergi ke atas dg sapu dan kain pel. Celakanya tempe terlupakan dan walhasil gosong song jadi arang. Bu majikan ngamuk, Pokinem di cubit lalu disuruh makan tempe gosong. Bu majikan bilang, “gimana kamu, lagi nggoreng kok ditinggal. Lihat gosong, mubadzir, Alloh ga suka dg org mubadzir. Boros minyak tanah, minyak goreng, tempe nya pun ga bisa termakan, lebih bahaya lagi kamu membahayakan isi rumah, bisa bisa kebakaran, kamu bisa ngganti? Mo ganti dg apa? Sudah sukur diberi tempat berteduh yang nyaman di sini. Kok ga berterima kasih……….” Dan masih panjang lagi ceramahnya, karena Bu majikan kan rajin mengaji kemana mana dan mendakwahi mantu mantunya.
Meski Pokinem mencoba memberi alasan, bu majikan tetap marah eh ceramah. Yah sebaiknya seperti kata bu majikan Pokinem lebih baik dengar saja, kan Pokinem ga tau apa apa ga makan sekolahan, mesti bu majikan itu yang bener bu majikan kan rajin ngaji dan bergaul dg ibu ibu pejabat, Pak majikan juga seorang yang dulu berpangkat tinggi, semestinya memang tidak dilawan, mereka semua selalu benar, Pokinem yang banyak salahnya meski kadang Pokinem mangkel. Yaa Pokinem juga manusia, meski bodo, ga sekolah, ga tau etika dan sopan santun, meski…
Kalu sudah begitu Pokinem lebih senang masuk gudang eh kamar, yah kamar yang ga lebih besar dari kamar mandi itu, selain tempat tidur pokinem juga tempat bu majikan simpan barang, mulai dari barang antik sampai makanan. Maklum kata bu majikan di rumahnya banyak ‘TIKUS BESAR’ yang rakus dan suka ngabisi makanan. Dan lagi kata bu majikan makanan harus hemat kalu bisa bikin makanan yang bisa tahan untuk satu minggu, meski org di rumah bu majikan banyak ya harus dicukupkan makanya mesti disembunyikan dan dikeluarkan sedikit sedikit. Dan Pokinem lah yang dipercaya menyimpan dan membagi nya.
Bu majikan memang hemat, Pokinem diajari berhemat dg tidak dibayari gajinya tiap bulan, tapi hanya diberi uang secukupnya untuk keperluan sehari hari, sisanya ditabung di bu majikan, meski kadang saat sudah terkumpul banyak bu majikan akan bingung pinjam sana sini, untuk melunasi uang tabungan Pokinem itu. Pokinem jadi suka agak bingung Hutang dg Tabungan itu apa bedanya???
Pokonya Pokinem senang bisa pulang cepat, dan kembali kerja.
Pokinem pulang dg kereta diantar sampai stasiun oleh bapak ibu dan adik adik, meski sedih karena ga jadi beli baju, yg hargayanya sama dg 4 kilo beras, Pokinem senang bisa ketemu mereka semua dan mengetahui keadaan mereka baik baik saja.
Pokinem bawa oleh oleh ubi jalar dari kebun Si Mbah. Pak majikan senang makan makan ubi goreng sore sore, nanti Pokinem akan langsung goreng mumpung masih baru, mesti rasanya manis, seulas senyum menyungging di bibir Pokinem saat masuk halaman rumah majikan yang luasnya 10 kali rumah Pokinem.
Di depan Bu majikan sedang nyapu halaman langusung menyambut, “Heh pulang lu? Ngapain cepet-cepet pulang, lagian sekarang sih percumah barusan ada acara Bapak rame banget, badan ku sampe rasanya patah patah ngerjain semua, kamu enak enakan plesir kayak orang kaya. Huh mesti pulang habis duit, mana tahan kamu cuman makan garam di kampung, karuan di sini sudah enak semua gratis……”
Pokinem nyengir kuda, langsung masuk rumah ambil sapu, ember, kain pel dan siap bekerja lagi….

1.03.2007

Mau Lo Ape?!

Pertanyaan mudah ini ternyata kadang sulit untuk dijawab (paling tidak buat saya).
Setiap kali ditanya “mau kamu apa sih sebenernya?”
Bingung jawabnya. Saya pikir pikir lagi apa ya mau saya sebenarnya?
Saat melakukan sesuatu dan kemudian ditanya mengenai apa tujuannya, sebagai org dewasa tentunya ga bisa hanya bilang, “karena saya ingin” saja.
Mesti ada tujuan yang hendak dicapai, ada sesuatu yang hendak di tuju.
Tapi apa? Bingung jawabnya.
Apa yang sebenarnya di harap saat memilih jalan yang belok ke kanan bukan ke kiri? Apa yang dituju waktu memilih akan melakukan ini daripada itu? Apa yang sebenarnya dicari saat memilih pekerjaan anu daripada inu? Apa sebetulnya yang ingin diraih saat memutuskan untuk begini bukannya begitu?
Walah kok bingung ya.
Pedahal seharusnya saat memutuskan, semestinya ada yang menjadi alasan dari keputusan yang dibuat tersebut. Ada sebab musabab sampai akhirnya keputusan jatuh pada suatu pilihan.
Mungkin ga seekstrim sampai sama sekali ga ada alasan, atau hanya krena ‘ingin’ saja.
Tapi apa ya, pertimbangan emosional dibenarkan sebagai parameter penentu suatu keputusan?
Apa dibenarkan pertimbangan berdasar sesuatu yang sifatnya abstrak dapat dibuat penentu arah mana yang akan diambil?
Misal: mau begini karena saya tidak suka dg yang begitu. Mau itu karena bete akut dg yang ini. Milih anu karena udah ga kuat sama yang inu dsb dst.
Jadi milih, memutuskan melakukan sesuatu karena pertimbangan emosional saja apa cukup, dan dibenarkan ya?
Kalu boleh membuat pembenaran, memutuskan sesuatu karena pertimbangan emosional saja biasanya dilakukan dengan alasan kenyaman, ketentraman batin, kelapangan jiwa.
Cukup ga ya?
Saya akan merasa senang jika saya memilih ini daripada itu. Saya melakukan begini demi ketentraman hati, atau kalu melakukan begitu saya bisa bete akut.
Trus kok jadi kayak salah ya? Jadi kayak mo enaknya aja? Jadi seperti ga jelas juntrungannya. Dan takutnya jika lalu sadar pilihan atau keputusan yang diambil ga bikin nyaman lantas apa? Muter balik? Buat keputusan baru? Cari pilihan lain? Parahnya malah jadi putus asa dg langkah yang udah diambil, dan lalu nyerah sama keadaan..duuh jangan sampe deh.
Yah meskipun manusia ga pernah akan 100% selalu benar dg apa yang dipilih, paling tidak seharusnya mempertimbang banyak faktor untuk meminimalisir salah langkah.
Setiap keputusan memangnya musti punya tujuan konkrit, gitu ya. Ga cukup pertimbangan emosional saja.
Wahduh puyeng deh. Puyeng ga? Puyeng kan? Puyeng dooong :p
Seharusnya ga puyeng kali? Mulai sekarang belajar ah, bikin keputusan yang matang. Menajamkan tujuan, menimbang dan melihat dari banyak sisi dan lalu nyusun strategi buat langkah kedepan, biar ga kejebak dg ‘pilihan/keputusan’ yang tidak tepat dan terjebak dalam keputus-asaan.
BIsmillah.

This page is powered by Blogger. Isn't yours?