2.23.2007
Kaca Mata Renang (Solusi tepat mengatasi anak yang takut keramas)

Isa takut (baca: malas) betul disuruh mandi. Meskipun selanjutnya jika sudah dikamar mandi malah sulit sekali ‘diusir’ keluar.
Praktis dia hanya mandi sekali sehari jika ibunya sedang tidak di rumah.Artinya 5 hari dalam seminggu isa akan bolos mandi pagi, ya lah si mbok’e di kantor seharian selama 5 hari kerja.
Jadi selama 5 hari itu Isa mandi sore saja dan TIDAK MAU DIKERAMAS. Segala rayuan sampai ancaman di lakukan agar Isa mau keramas, dari mulai rambut bau, issue kutu, iming iming mainan baru sampai ancaman tidak boleh tidur sama ibu, tidak mampu menembus pertahanan anak ini agar mau dikeramas.
Seribu satu alasan dibuat sampai kepasrahan asalkan rambutnya tak dishampoo. Yang takut perih lah, yang ga bisa liat lah, yang takut buta lah sampai berpasrah diri biar rambutnya dikutuin daripada harus dishampoo.
Suatu ide muncul dari Isa sendiri, sejak seminggu lalu saat mandi Isa selalu minta dipakaikan kaca mata renang! Duile, ini anak mo mandi aja kudu gaya. Alasannya kalu pake kacamata renang, Isa bilang bisa liat hiu, ada ada aja. Tapi tyt hasilnya, Isa ga takut lagi diguyur bahkan dishampooi rambutnya. Dan solusi cerdas berkaca mata renang saat mandi dan keramas yang datang dari anak dg sejuta ide ini, betul betul membantu, membuat rambut Isa mewangi semerbak terus sepanjang hari.
Dan yang terpenting Isa ngerasa gaya bener saat mandi pake tacamata (kacamata maksutnyah).
Praktis dia hanya mandi sekali sehari jika ibunya sedang tidak di rumah.Artinya 5 hari dalam seminggu isa akan bolos mandi pagi, ya lah si mbok’e di kantor seharian selama 5 hari kerja.
Jadi selama 5 hari itu Isa mandi sore saja dan TIDAK MAU DIKERAMAS. Segala rayuan sampai ancaman di lakukan agar Isa mau keramas, dari mulai rambut bau, issue kutu, iming iming mainan baru sampai ancaman tidak boleh tidur sama ibu, tidak mampu menembus pertahanan anak ini agar mau dikeramas.
Seribu satu alasan dibuat sampai kepasrahan asalkan rambutnya tak dishampoo. Yang takut perih lah, yang ga bisa liat lah, yang takut buta lah sampai berpasrah diri biar rambutnya dikutuin daripada harus dishampoo.
Suatu ide muncul dari Isa sendiri, sejak seminggu lalu saat mandi Isa selalu minta dipakaikan kaca mata renang! Duile, ini anak mo mandi aja kudu gaya. Alasannya kalu pake kacamata renang, Isa bilang bisa liat hiu, ada ada aja. Tapi tyt hasilnya, Isa ga takut lagi diguyur bahkan dishampooi rambutnya. Dan solusi cerdas berkaca mata renang saat mandi dan keramas yang datang dari anak dg sejuta ide ini, betul betul membantu, membuat rambut Isa mewangi semerbak terus sepanjang hari.
Dan yang terpenting Isa ngerasa gaya bener saat mandi pake tacamata (kacamata maksutnyah).
Catatan: Isa masih mandi 1 kali sehari kecuali saptu minggu dan hari libur tapi rambutnya yang kucay ga lagi lepek dan bau apek :)
2.19.2007
Cerita Dari Suatu Pusat Penyelamatan Satwa
Ujang Kemon melamun sedih sambil memilah pakan satwa yang akan di berikannya pagi ini.
Shubuh tadi sebelum berangkat kerja istrinya ngomel ngomel tidak ada uang untuk belanja yang memang sudah habis seminggu belakangan. Uang hasil jual radio kemarin sudah habis ludes, itu pun tidak akan mencukupi sampai minggu kemarin jika tidak di irit irit. Ujang Kemon tak berani mengomeli balik istrinya. Selain istri tercintanya itu sedang hamil tua, pun keadaan seperti ini sudah berlangsung hampir 4 bulan, tepatnya sejak lebaran kemarin.
Dimulai sejak lebaran dg tidak diberikanya THR, lalu gaji yang selalu terlambat tiap bulannya sampai 2 bulan terakhir malahan tak dibayar sama sekali.
Ujang Kemon bekerja di sebuah Lembaga Penyelamatan Satwa Langka yang kebetulan berada didesanya. Suatu Desa di bagian selatan kabuten sukabumi yang terpencil, ditengah hutan di kaki Gunung Gede yang dibutuhkan untuk memulihkan keadaan hewan hewan yang hilang ‘keliarannya’ akibat dipelihara oleh orang orang berduit yang kurang mengerti atau malah memang tidak mau mau tahu soal keseimbangan alam dan menjaga kelestarian makluk hidup di alam bebas. Pusat Penyelamatan iniada beberapa, tersebar di beberapa propinsi di Indonesia. 1 di jawabarat, 1 di Jakarta, lainnya di jogja, bali dan beberapa di sumatera. Di prakarsai oleh beberapa mahasiswa lulusan biologi dari beberapa universitas di Indonesia dan didanai oleh suatu yayasan dari Eropa yang mengumpulkan uang dari orang orang berduit di sana yang justeru sangat peduli dg kelestarian hewan langka di Indonesia.
Pusat penyelamat satwa di sukabumi tersebut sudah berdiri selama hampir 7 tahun. Kegiatannya dimulai dari penyuluhan mengenai semakin berkurangnya jumlah hewan langka yang semestinya dilestarikan dan menjadi tanggung jawab bersama seluruh manusia yang hidup di Indonesia, penyebaran famlet dan sticker, sampai penyitaan ke rumah rumah org berduit yang dg hobby menyimpan dan memelihara satwa-satwa langka ini. Kegiatan Ini tentu saja membutuhkan bantuan pemerintah sebagai pihak berwenang demi lancarnya segala proses dan upaya mewujudkan tujuan mulia ini.
Sayangnya pemerintah yang seharusnya membantu dan mendukung penuh kegiatan ini malahan menjadi beban materiil bagi yayasan. Dana yang mengucur bukannya 100% digunakan untuk kepentingan lancarnya program-program penyelamatan dan pelestarian satwa, malahan sebqaian besar terpaksa masuk ke kocek pejabat kehutanan dan aparat terkait lainnya, ‘demi lancarnya’ upaya para penyelamatan satwa. Dari mulai ‘Uang Jago’ yang dibutuhkan saat penyitaan yang kebetulan banyak dilakukan di tempat ‘org2 besar’ dan cukup berpengaruh sampai uang ‘kesejahteraan’ pejabat berwenang yang rutin diberikan tiap bulannya.
Brengseknya lagi setelah mengetahui asset yang cukup besar yang dimiliki pusat penyelamatan satwa ini, dengan seenaknya pemerintah kemudian mengklaim untuk mengambil alih pengelolaan pusat penyelamatan satwa tersebut.
Dan sudah bisa diduga program pelestarian yang sudah sedemikian rupa di buat dengan terencana dan dana yang sangat memadai, hancur berantakan akibat pengambilaalihan orang orang serakah dan tak bertanggung jawab ini.
Otomatis dg pengambilaihan ini yayasan menarik sumbangannya dan menyerahakan sepenuhnya apda pemerintah yang jelas jelas, cuman bisa jadi pengeretan, lintah darah penghisap dana apa saja.
Akibat awalnya jumlah pakan hewan mulai menurun, kualitas dan kuantitas.
Kalau dulu manusia boleh iri dan petugas kadang bisa ikut icip icp pakan satwa yang terdiri dari buah import yang berkualitas dan jumlah yang memadai, untuk hewan buas, ada kambing dan ayam setiap harinya. Bisa dibayangkan jika ini berkurang, hewan yang mulai dikembalikan kebuasan akan mengamuk dan malah membahayakan keselamatan pegawai dan penduduk setempat. Selanjutnya berpengaruh pada gaji karyawan yang hampir 85% penduduk setempat, seperti sahabat kita Ujang Kemon. mUali dari THR, keterlambatan gaji, malahan terkahir tak dibayar samsekali. Lebih lanjut lagi, mulai ada lobi-lobi dan kasak kusuk dari org org serakah ini untuk menjual kembali hewan hewan yang sudah direhabilitasi dan siap dikembalikan ke habitat aselinya.
Keadaan yang memprihatinkan ini membuat Pimpinan pusat penyelamatan satwa yang tak lain bosnya Ujang Kemon, sampai merogoh koceknya sendiri untuk menutupi kebutuhan pakan satwa, pun membayar gaji karyawan yang juga butuh makan.
Bos Ujang Kemon berfikir mungkin sebelum membuat pusat penyelamat satwa untuk merehabilitasi sifat keliaran satwa, ada baiknya membuat pusat penyelamatan pejabat Indonesia, guna merehabilitasi kebrobokan mental dan sifat keserakahan mereka, siapa yang mau mendanai????????????
Shubuh tadi sebelum berangkat kerja istrinya ngomel ngomel tidak ada uang untuk belanja yang memang sudah habis seminggu belakangan. Uang hasil jual radio kemarin sudah habis ludes, itu pun tidak akan mencukupi sampai minggu kemarin jika tidak di irit irit. Ujang Kemon tak berani mengomeli balik istrinya. Selain istri tercintanya itu sedang hamil tua, pun keadaan seperti ini sudah berlangsung hampir 4 bulan, tepatnya sejak lebaran kemarin.
Dimulai sejak lebaran dg tidak diberikanya THR, lalu gaji yang selalu terlambat tiap bulannya sampai 2 bulan terakhir malahan tak dibayar sama sekali.
Ujang Kemon bekerja di sebuah Lembaga Penyelamatan Satwa Langka yang kebetulan berada didesanya. Suatu Desa di bagian selatan kabuten sukabumi yang terpencil, ditengah hutan di kaki Gunung Gede yang dibutuhkan untuk memulihkan keadaan hewan hewan yang hilang ‘keliarannya’ akibat dipelihara oleh orang orang berduit yang kurang mengerti atau malah memang tidak mau mau tahu soal keseimbangan alam dan menjaga kelestarian makluk hidup di alam bebas. Pusat Penyelamatan iniada beberapa, tersebar di beberapa propinsi di Indonesia. 1 di jawabarat, 1 di Jakarta, lainnya di jogja, bali dan beberapa di sumatera. Di prakarsai oleh beberapa mahasiswa lulusan biologi dari beberapa universitas di Indonesia dan didanai oleh suatu yayasan dari Eropa yang mengumpulkan uang dari orang orang berduit di sana yang justeru sangat peduli dg kelestarian hewan langka di Indonesia.
Pusat penyelamat satwa di sukabumi tersebut sudah berdiri selama hampir 7 tahun. Kegiatannya dimulai dari penyuluhan mengenai semakin berkurangnya jumlah hewan langka yang semestinya dilestarikan dan menjadi tanggung jawab bersama seluruh manusia yang hidup di Indonesia, penyebaran famlet dan sticker, sampai penyitaan ke rumah rumah org berduit yang dg hobby menyimpan dan memelihara satwa-satwa langka ini. Kegiatan Ini tentu saja membutuhkan bantuan pemerintah sebagai pihak berwenang demi lancarnya segala proses dan upaya mewujudkan tujuan mulia ini.
Sayangnya pemerintah yang seharusnya membantu dan mendukung penuh kegiatan ini malahan menjadi beban materiil bagi yayasan. Dana yang mengucur bukannya 100% digunakan untuk kepentingan lancarnya program-program penyelamatan dan pelestarian satwa, malahan sebqaian besar terpaksa masuk ke kocek pejabat kehutanan dan aparat terkait lainnya, ‘demi lancarnya’ upaya para penyelamatan satwa. Dari mulai ‘Uang Jago’ yang dibutuhkan saat penyitaan yang kebetulan banyak dilakukan di tempat ‘org2 besar’ dan cukup berpengaruh sampai uang ‘kesejahteraan’ pejabat berwenang yang rutin diberikan tiap bulannya.
Brengseknya lagi setelah mengetahui asset yang cukup besar yang dimiliki pusat penyelamatan satwa ini, dengan seenaknya pemerintah kemudian mengklaim untuk mengambil alih pengelolaan pusat penyelamatan satwa tersebut.
Dan sudah bisa diduga program pelestarian yang sudah sedemikian rupa di buat dengan terencana dan dana yang sangat memadai, hancur berantakan akibat pengambilaalihan orang orang serakah dan tak bertanggung jawab ini.
Otomatis dg pengambilaihan ini yayasan menarik sumbangannya dan menyerahakan sepenuhnya apda pemerintah yang jelas jelas, cuman bisa jadi pengeretan, lintah darah penghisap dana apa saja.
Akibat awalnya jumlah pakan hewan mulai menurun, kualitas dan kuantitas.
Kalau dulu manusia boleh iri dan petugas kadang bisa ikut icip icp pakan satwa yang terdiri dari buah import yang berkualitas dan jumlah yang memadai, untuk hewan buas, ada kambing dan ayam setiap harinya. Bisa dibayangkan jika ini berkurang, hewan yang mulai dikembalikan kebuasan akan mengamuk dan malah membahayakan keselamatan pegawai dan penduduk setempat. Selanjutnya berpengaruh pada gaji karyawan yang hampir 85% penduduk setempat, seperti sahabat kita Ujang Kemon. mUali dari THR, keterlambatan gaji, malahan terkahir tak dibayar samsekali. Lebih lanjut lagi, mulai ada lobi-lobi dan kasak kusuk dari org org serakah ini untuk menjual kembali hewan hewan yang sudah direhabilitasi dan siap dikembalikan ke habitat aselinya.
Keadaan yang memprihatinkan ini membuat Pimpinan pusat penyelamatan satwa yang tak lain bosnya Ujang Kemon, sampai merogoh koceknya sendiri untuk menutupi kebutuhan pakan satwa, pun membayar gaji karyawan yang juga butuh makan.
Bos Ujang Kemon berfikir mungkin sebelum membuat pusat penyelamat satwa untuk merehabilitasi sifat keliaran satwa, ada baiknya membuat pusat penyelamatan pejabat Indonesia, guna merehabilitasi kebrobokan mental dan sifat keserakahan mereka, siapa yang mau mendanai????????????
2.06.2007
Jakarta Siaga I
Pergi ke kantor hari jumat kemarin dalam keadaan basah kuyup. Meski sudah berpayung, hujannya terlampau lebat tak henti dari tengah malam hingga esok hari. Di jalanan cukup sepi, berangkat kerja agak sedikit terlalu pagi. Dan hujan masih terus mengguyur, membasahi apapun yang tak berpelindung.
Sampai di kantor ga kalah sepi, mungkin org org terhambat macet akibat hujan sehingga masih berkutat di jalan. Buka buka Kompas.Co.id lalu beberapa situs berita lain, banjir di mana mana. Selanjutnya, buka kotak surat elektronik, salah satu surat mengabarkan beberapa teman termasuk beliau ga bisa masuk kantor, banjir.
5 tahun lalu seperti ini, hanya sekarang lebih parah.
Di situs situs yang tadi saya buka memberitakan memang banjir merata hampir di setiap pelosok Jakarta. Miris, kejadiannya berulang dan sekali lagi lebih parah.
Hujan masih belum berhenti, para petinnggi kantor mempersilahkan pegawainya pulang cepat. Khawatir terhambat banjir di jalan atau pun mengkhawatirkan keluarga yang di tinggal di rumah.
Saya masih belum beranjak dari kubus, dan terus memelototi beberapa berita yang isinya sama, Banjir di mana mana.
Lalu seorang teman menarik tangan saya, “saya liatin sesuatu tapi jangan kaget” ajaknya.
Kami mengintip dari kaca gedung yang menghadap tepat ke area parkir motor dan mobil yang tidak berstiker gedung. Saya terkaget kaget dengan pemandangan yang terhampar di depan mata kami.
Area parkiran itu digenangi air berwarna coklat, seperti susu coklat yang kebanyakan air. Motor yang terparkir semalaman di sana, terendam hingga hanya terlihat stang dan jok nya saja, sedangkan mobil yang bodynya cukup tinggi, terendam hingga sekitar batas ban bagian atasnya, jangan dibayangkan rumah rumah penduduk di belakang areal parkir, penghuninya saja mengungsi ke dalam gedung kantor kami.
Duh terulang lagi, 5 tahun sekali sudah mirip dg pemilu. Jakarta terendam semakin taun lagi lagi semakin parah saja.
Pak, Bu yang di atas sana, tolong dong diperhatikan, setahun saja project trans Jakarta lebih dari puluhan kilometer dg biaya ratusan juta dolar bisa diselesaikan sekejap mata, proyek banjir kanal yang hanya 24 km-an sudah 2 tahun ini, baru selesai 7 km saja. Pak Bu, jangan malah sibuk mengurusi aturan untuk proyek liar para pengembang nakal di bogor, puncak dan sekitarnya, yang dijadikan kambing hitam penyebab terendamnya jakarta tokh ‘dana kenakalan mereka’ masuknya ke kantong anda anda juga, jujur saja (lagian nelat deh, kenapa ga dari dulu?). Pak Bu kalau ga becus bikin program menangkal banjir yg 5 tahun sekali saja, mbok tolong penanggulangan dan bantuan untuk korban disegerakan, jangan pake banyak alasan segelintir warga yang ogah di evakuasi, maklum lah hartanya ga seberapa, mau ga mau mreka harus jaga, kalu hilang dikutil atau dijarah anda pun enggan menggantinya kan?! Bayak korban yang terkepung banjir sudah berhari hari, hanya bisa melihat perahu karet anda yang sangat terbatas jumlahnya berseliweran tanpa berusaha mengevakuasi mereka atau sekedar mengirim bantuan makanan, obat dan pakaian kering yang nyaman sekedar meringakan derita mereka di tempat pengungsian. Dan ingat Pak Bu yang terhormat ga usah ajari mereka untuk bersabar dalam cobaan, mereka sudah cukup kenyang dengan kesusahan, sudah sangat pakar mengurut dada dan bersabar. Bukan hanya nasihat dan kunjungan anda yang diharap, atau ocehan ga mutu di televisi yang mengelak saat ditanya mengenai lambannya kerja anda menanggulangi bencana.
Tak seperti pemerintah Malaysia yang mau bertindak cepat menyegerakan bantuan dan merogoh koceknya mengganti harta rakyatnya yang rusak terendam banjir, itu pun yang pertama kali setelah 20 tahun terakhir ini, anda mengirim bantuan saja tersendat sudah seperti lalu lintas di jalan Jakarta yang maceeeeetttttt di mana mana.
Mungkin kami juga yang salah lalai menjaga kali dari sampah. Mungkin kami juga yang salah bermukim di bantar kali yang rentan bencana ini. Mungkin……
Jakarta siaga I, 5 tahun sekali : 1997, 2002, 2007, 2012? 2017? 2022? 20………………….?????
Sampai di kantor ga kalah sepi, mungkin org org terhambat macet akibat hujan sehingga masih berkutat di jalan. Buka buka Kompas.Co.id lalu beberapa situs berita lain, banjir di mana mana. Selanjutnya, buka kotak surat elektronik, salah satu surat mengabarkan beberapa teman termasuk beliau ga bisa masuk kantor, banjir.
5 tahun lalu seperti ini, hanya sekarang lebih parah.
Di situs situs yang tadi saya buka memberitakan memang banjir merata hampir di setiap pelosok Jakarta. Miris, kejadiannya berulang dan sekali lagi lebih parah.
Hujan masih belum berhenti, para petinnggi kantor mempersilahkan pegawainya pulang cepat. Khawatir terhambat banjir di jalan atau pun mengkhawatirkan keluarga yang di tinggal di rumah.
Saya masih belum beranjak dari kubus, dan terus memelototi beberapa berita yang isinya sama, Banjir di mana mana.
Lalu seorang teman menarik tangan saya, “saya liatin sesuatu tapi jangan kaget” ajaknya.
Kami mengintip dari kaca gedung yang menghadap tepat ke area parkir motor dan mobil yang tidak berstiker gedung. Saya terkaget kaget dengan pemandangan yang terhampar di depan mata kami.
Area parkiran itu digenangi air berwarna coklat, seperti susu coklat yang kebanyakan air. Motor yang terparkir semalaman di sana, terendam hingga hanya terlihat stang dan jok nya saja, sedangkan mobil yang bodynya cukup tinggi, terendam hingga sekitar batas ban bagian atasnya, jangan dibayangkan rumah rumah penduduk di belakang areal parkir, penghuninya saja mengungsi ke dalam gedung kantor kami.
Duh terulang lagi, 5 tahun sekali sudah mirip dg pemilu. Jakarta terendam semakin taun lagi lagi semakin parah saja.
Pak, Bu yang di atas sana, tolong dong diperhatikan, setahun saja project trans Jakarta lebih dari puluhan kilometer dg biaya ratusan juta dolar bisa diselesaikan sekejap mata, proyek banjir kanal yang hanya 24 km-an sudah 2 tahun ini, baru selesai 7 km saja. Pak Bu, jangan malah sibuk mengurusi aturan untuk proyek liar para pengembang nakal di bogor, puncak dan sekitarnya, yang dijadikan kambing hitam penyebab terendamnya jakarta tokh ‘dana kenakalan mereka’ masuknya ke kantong anda anda juga, jujur saja (lagian nelat deh, kenapa ga dari dulu?). Pak Bu kalau ga becus bikin program menangkal banjir yg 5 tahun sekali saja, mbok tolong penanggulangan dan bantuan untuk korban disegerakan, jangan pake banyak alasan segelintir warga yang ogah di evakuasi, maklum lah hartanya ga seberapa, mau ga mau mreka harus jaga, kalu hilang dikutil atau dijarah anda pun enggan menggantinya kan?! Bayak korban yang terkepung banjir sudah berhari hari, hanya bisa melihat perahu karet anda yang sangat terbatas jumlahnya berseliweran tanpa berusaha mengevakuasi mereka atau sekedar mengirim bantuan makanan, obat dan pakaian kering yang nyaman sekedar meringakan derita mereka di tempat pengungsian. Dan ingat Pak Bu yang terhormat ga usah ajari mereka untuk bersabar dalam cobaan, mereka sudah cukup kenyang dengan kesusahan, sudah sangat pakar mengurut dada dan bersabar. Bukan hanya nasihat dan kunjungan anda yang diharap, atau ocehan ga mutu di televisi yang mengelak saat ditanya mengenai lambannya kerja anda menanggulangi bencana.
Tak seperti pemerintah Malaysia yang mau bertindak cepat menyegerakan bantuan dan merogoh koceknya mengganti harta rakyatnya yang rusak terendam banjir, itu pun yang pertama kali setelah 20 tahun terakhir ini, anda mengirim bantuan saja tersendat sudah seperti lalu lintas di jalan Jakarta yang maceeeeetttttt di mana mana.
Mungkin kami juga yang salah lalai menjaga kali dari sampah. Mungkin kami juga yang salah bermukim di bantar kali yang rentan bencana ini. Mungkin……
Jakarta siaga I, 5 tahun sekali : 1997, 2002, 2007, 2012? 2017? 2022? 20………………….?????
