4.15.2008
Innocent Voice
Berawal dengan rengekan Isa yang minta dibelikan ‘perang’. Betul betul saya bingung, bagaimana pula Isa bisa mengartikan perang adalah sesuatu, sebuah barang yang bisa dibeli dan lalu dimainkan?!
Bingung menjelaskan dengan cara berfikir anak yang begitu boombastis, maka saya ajak Isa nonton felem perang, dg harapan Isa bisa memaknai sendiri artinya.
Pilihan Jatuh pada Innocent Voice. Berdasarkan kisah nyata tentang perang saudara antar sipil-militer di el Salvador.
Saya pikir paling tidak Isa bisa mengerti perang itu seperti apa, sehingga khayalan nya ga nyasar – nyasar banget atau paling ga imajinasinya ga melenceng :).
Menonton film berdurasi sekitar 120 menit itu, dg tiap adengan yang menguras perasaan tanpa penyajian kisah yg terlalu dramatis dan dibuat buat.
Tentang Chava bocah laki laki berumur 11 tahun dan peran barunya sebagai Man Off the house, karena ayahnya seperti juga lelaki dewasa lainnya harus pergi berjuang.
Tentang sekolah yang tidak lagi menjadi tempat belajar dan bermain, tapi arena yg dipenuhi tentara tentara busuk yg merekrut paksa anak laki laki berumur 12 tahun untuk ikut angkat senjata.
Tentang pembunuhan semena mena bocah kecil akibat kesalahan..ah tak pantas disebut kesalahan…hmm kenakalannya (bukankah kenakalan adalah nama tengah hampir setiap anak?!.)
Tentang sepotong lagu damai yang menjadi sangat terlarang akibat perang.
Tentang senyum dan canda Chava dengan saudara saudaranya di tengah desingan peluru.
Tentang kekhwatiran seorang ibu saat bocah laki-lakinya pulang terlambat.
Tentang cinta ‘monyet’ yang mulai tumbuh, tentang lampion api di malam hari dan kecupan manis seorang gadis kecil.
Tentang pengungsian, tentang harapan akan lelaki tercinta untuk pulang dan kembali bersama.
Tentang cinta, tentang kasih,………tentang hidup.
Bingung menjelaskan dengan cara berfikir anak yang begitu boombastis, maka saya ajak Isa nonton felem perang, dg harapan Isa bisa memaknai sendiri artinya.
Pilihan Jatuh pada Innocent Voice. Berdasarkan kisah nyata tentang perang saudara antar sipil-militer di el Salvador.
Saya pikir paling tidak Isa bisa mengerti perang itu seperti apa, sehingga khayalan nya ga nyasar – nyasar banget atau paling ga imajinasinya ga melenceng :).
Menonton film berdurasi sekitar 120 menit itu, dg tiap adengan yang menguras perasaan tanpa penyajian kisah yg terlalu dramatis dan dibuat buat.
Tentang Chava bocah laki laki berumur 11 tahun dan peran barunya sebagai Man Off the house, karena ayahnya seperti juga lelaki dewasa lainnya harus pergi berjuang.
Tentang sekolah yang tidak lagi menjadi tempat belajar dan bermain, tapi arena yg dipenuhi tentara tentara busuk yg merekrut paksa anak laki laki berumur 12 tahun untuk ikut angkat senjata.
Tentang pembunuhan semena mena bocah kecil akibat kesalahan..ah tak pantas disebut kesalahan…hmm kenakalannya (bukankah kenakalan adalah nama tengah hampir setiap anak?!.)
Tentang sepotong lagu damai yang menjadi sangat terlarang akibat perang.
Tentang senyum dan canda Chava dengan saudara saudaranya di tengah desingan peluru.
Tentang kekhwatiran seorang ibu saat bocah laki-lakinya pulang terlambat.
Tentang cinta ‘monyet’ yang mulai tumbuh, tentang lampion api di malam hari dan kecupan manis seorang gadis kecil.
Tentang pengungsian, tentang harapan akan lelaki tercinta untuk pulang dan kembali bersama.
Tentang cinta, tentang kasih,………tentang hidup.
