To Forgive and Forget (sebuah perjalanan awal menjadi manusia yang lebih baik)

Berawal dari sebuah pertanyaan tentang “how to forive and forget?” si oom pemilik blog ini menceritakan sebuah kisah menarik.
Waktu masih sekolah, sekali waktu beliau pernah dipanggil salah seorang guru. Saat itu beliau ditanyai inginkah ia menjadi orang yang lebih baik. Tentu saja kala itu, beliau menjawab: ingin. Sang guru memberikan jalan, yaitu dengan mencatat segala bentuk kesalahan yang diperbuatnya secara terperinci. Dan lalu sang guru kemudian memberinya sebuah buku kosong sebagai buku catatan segala kesalahan. Beliau menerima dengan bahagia, saat itu beliau merasa sangat special, sebagai satu satunya murid yang medapat kehormatan mendapat ilmu untuk menjadi lebih baik dan mendapat “kunci” menuju gerbang kebaikan.
Waktu masih sekolah, sekali waktu beliau pernah dipanggil salah seorang guru. Saat itu beliau ditanyai inginkah ia menjadi orang yang lebih baik. Tentu saja kala itu, beliau menjawab: ingin. Sang guru memberikan jalan, yaitu dengan mencatat segala bentuk kesalahan yang diperbuatnya secara terperinci. Dan lalu sang guru kemudian memberinya sebuah buku kosong sebagai buku catatan segala kesalahan. Beliau menerima dengan bahagia, saat itu beliau merasa sangat special, sebagai satu satunya murid yang medapat kehormatan mendapat ilmu untuk menjadi lebih baik dan mendapat “kunci” menuju gerbang kebaikan.
Hari selanjutnya beliaa mulai dengan menghitung dan mengingat segala macam kesalahan yang diperbuat dan dicatatnya dalam buku catatan kesalahan. Catatan tersebut mulai penuh dengan segala bentuk kesalahan yang diperbuatnya dalam berkegiatan sehari hari. Dan semakin hari daftar kesalahan tersebut semakin panjang dan semakin detail. Hal hal kecil yang menjadi kesalahan di tulisnya dengan rapi dan runut. Tak terasa telah berbulan bulan hal tersebut dilakukan dan beliau menjadi sangat terbiasa.
Perkembangan dari pencatatan kesalahan tersebut adalah beliau mencoba menghindar dari berbuat kesalahan yang sama. Beliau menjadi berhati hati dalam bertndak. Dan yang lebih luar biasa, beliau mulai mencoba membuat orang lain terhindar dari membuat kesalahan yang pernah dilakakukannya. Alhasil beliau menjadi “polisi kecil” yang senantiasa memperhatikan gerak gerik orang lain di sekitarnya dan berusaha sebisa mungkin membuat org lain terhindar dari berbuat salah. Dalam hal menghindarkan org lain untuk berbuat salah, beliau menjadi sangat skpetis dan berpikiran sempit. pikirannya dipenuhi dengna ketakutan ketakutan dan membuat ruang geraka dan cara berfikirnya menjadi sempit. kompensasi lainnya adalah: memperbanyak ibadah. Segala ritual keagamaan yang syar’i dilakukannya, semakin banyak dilakukan semakin terasa kurang. Terjadi berulang ulang dan dari hari kehari semakin parah.
Suatu malam beliau merasakan kelelahan luar biasa atas usahanya untuk menjadi manusia yang lebih baik. Ternyata hidup kok jadi sulit dan serba sempit, terbatas betul tingkah polah oleh segala aturan dan ketakutan. Takut berbuat salah, takut orang lain melakukan salah, takut takut takut dan takut. Malam itu dilakukaknnnya ibadah qiyamul lail, tidak seperti biasa, setelah selesai meski merasa masih kurang apa yang dilakukannya, dihiraukannya perasaan tersebut. Seraya keluar kamar dan menyaksikan kepekatan malam. Lalu menengadah. Pandangnya terpaku pada langit, langit hitam yang luaaaaaaaaaaaaaaaaassssssss sangat luasa tapi ada tabur gemintang yang gemerlap di dalam pekat itu. Malam hening dengan hembusan angin yang menyejukan membuatnya terlena pada keagungan.
Sedemikian luasnya langit malam yang pekat tapi dengan gemerlap bintang di dalamnya munculan kecantikan luar biasa dari dalamnya. Betapa keindahan langit malam itu lantas membuka mata hatinya. Perlahan kesempitan yang selama ini terasa mulai pudar. ”seandainya hati ini seluas langit ciptaan-Mu ya Rab..” tiga malan berturut turut beliau merasakan hal yg sama, keindahan, keheningan, ke-Maha besaranNya..hanya dari menatap langit hitam pekat nan luas dengan gemintang yang genit bergelayut di dalamnya. Langit yang begitu luas sanggup menampung apa saja di dalamnya tanpa menganggu keanggunan can kecantikannya. Jika hati ini seluas itu maka tak terganggulah ia dengan segala ketakutan, kekhawatiran bahkan keburukan.
Allah Maha luas pengampunan-Nya, seburuk apapun kesalahan dilakukan manusia, maka saat ia bertobat sebenar benarnya maka bersihlah ia dari kesalahan inilah gemintang itu. Taubatlah yang menjadikan kepekatan hidup tak lagi legam. Dalam langit yang pekat itu ada gemintang yang bercahaya semua berdampingan seimbang, begitupun manusia: diciptakan dengan keberimbangan: baik dan buruk, dengan pilihan, maka saat berbuat salah bertaubatlah dan ingatlah kebaikan bukan terpaku pada hal buruk, menjadi lebih positif sehingga dalam mengambil langkah di depan menjadi lebih baik, bukan menjadi manusia yang takut berbuat salah tapi manusia yang berhati hati dalam melangkah.
Seimbang dalam menilai diri, karna Alloh itu Maha Imbang..thats the way how you can forgive and forget..Wallohualam..
Ps. Thanks to oom buat obral obrol nya, terutama mendengar “kicauan2” ga penting dari ponakan yang badung ini :)
Ps. Thanks to oom buat obral obrol nya, terutama mendengar “kicauan2” ga penting dari ponakan yang badung ini :)
btw "buku salah" nya dah jadi abu ya oom :)


0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home